Oleh : Asep Djuanda (Ketua PMI Kota Jakarta Pusat)
167 tahun yang lalu seorang pengusaha muda dari Swiss Henry Dunant berniat untuk melakukan perjalanan bisnis dengan kaisar Napoleon III di Perancis. Dalam perjalanan beliau terjebak dalam situasi peperangan antara tentara Perancis dan Austria didesa Solferino di Italia Utara.
Pertempuran Solferino terjadi pada 24 Juni 1859 yang dimenangkan oleh gabungan tentara Prancis pimpinan Napoleon III dan tentara Sardinia di bawah pimpinan Victor Emmanuel II. Mereka melawan tentara Austria di bawah pimpinan Franz Josef I.
Tentu saja pertempuran yang tidak seimbang ini banyak menelan korban dari pihak Austria.
Pertempuran terbuka lebih 9 jam tersebut telah banyak menelan korban. Menurut catatan sejarah jumlah korban dari Austria nencapai 3.000 tentara terbunuh dengan 10,807 cedera dan 8.638 hilang atau ditawan.
Situasi seperti ini menggugah Henry Dunant untuk terjun langsung menolong korban terutama yang cedera. Bekerja sama dengan masyrakat sekitar area konflik membawa para korban ke dalam gereja intuk dilakukan pertolongan. Disana beliau merawat luka seadanya mengingat keterbatasan alat medis dan obat obatan.
Ada korban luka parah yang pada akhirnya meninggal dunia meminta untuk menyampaikan pesan kepada keluarganya. Menyaksikan situasi perang seperti ini membaut hatinya terenyuh dan terpanggil untuk bagaimana caranya bisa melahirkan gagasan guna mendirikan badan yang khusus bisa membantu orang korban.
Sekembalinya HD ke Swiss tahun 1862, beliau menulis buku yang berjudul A Memory of Solferino. Henry Dunant seorang humaniter Swiss yang menyaksikan kengerian Pertempuran Solferino, telah mendokumentasikan penderitaan korban perang dan mengusulkan pembentukan organisasi sukarela serta perjanjian internasional untuk melindungi prajurit yang terluka, yang memicu berdirinya Palang Merah Internasional. Itulah cerita pendek tentang asal muasal berdirinya Palang Merah Internasional. (ADS/28.02.2026)
