Day: August 6, 2026

  • Semua Bisa Bantu Masyarakat; Refleksi Bulan Dana PMI Jakarta Tahun 1972

    Semua Bisa Bantu Masyarakat; Refleksi Bulan Dana PMI Jakarta Tahun 1972

    Kegiatan kemanusiaan tidak selalu lahir dari aksi-aksi besar. Sering kali, ia berawal dari langkah yang sangat sederhana: sebuah kaleng donasi di persimpangan jalan, tangan-tangan kecil yang dengan tulus mengulurkannya kepada para pengguna jalan, serta semangat para pelajar yang rela berdiri di bawah terik matahari demi membantu sesama.

    Bulan Dana Palang Merah Indonesia (PMI) merupakan salah satu contoh nyata bagaimana kepedulian masyarakat dapat dihimpun menjadi kekuatan besar untuk mendukung berbagai layanan kemanusiaan.

    Sejak pertama kali dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1972, Bulan Dana menjadi gerakan yang melibatkan banyak unsur masyarakat, termasuk para anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang menjadi ujung tombak penggalangan dana.

    Pada masa itu, metode penggalangan dana masih sangat sederhana. Para relawan membawa kaleng donasi dan mengedarkannya di setiap persimpangan jalan ketika lampu lalu lintas berwarna merah.

    Para pengguna kendaraan yang sedang berhenti menjadi bagian dari gerakan gotong royong tersebut melalui sumbangan sukarela.

    Berbeda dengan kondisi saat ini, kegiatan penggalangan dana di jalan raya pada masa itu masih diperbolehkan, sehingga interaksi antara relawan dan masyarakat berlangsung secara langsung. Cara sederhana tersebut justru mampu membangun kedekatan sekaligus menumbuhkan budaya berbagi di tengah masyarakat.

    Pelaksanaan Bulan Dana berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, mulai September hingga akhir November. Para anggota PMR dari berbagai sekolah di Jakarta bertugas secara bergantian di sejumlah titik yang telah ditentukan. Bagi kami, kegiatan ini bukanlah sebuah beban. Justru menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh makna.

    Setiap selesai bertugas, bentuk apresiasi yang kami terima sangat sederhana, seperti sepotong roti atau diantar pulang menggunakan ambulans PMI. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat semangat tetap terjaga. Kami merasa dihargai, sekaligus bangga karena dapat mengambil bagian dalam sebuah gerakan kemanusiaan.

    Ada pula pengalaman yang hingga kini masih membekas dalam ingatan. Setelah seluruh rangkaian Bulan Dana selesai, kami diajak mengikuti kegiatan rekreasi bersama anggota PMR dari berbagai sekolah di Jakarta ke Kota Bandung menggunakan kereta api.

    Selama di sana kami menginap di barak tentara dan mengikuti berbagai kegiatan kebersamaan. Perjalanan tersebut bukan sekadar rekreasi, tetapi menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, membangun solidaritas, dan menumbuhkan rasa bangga sebagai bagian dari keluarga besar PMI.

    Dana yang berhasil dihimpun melalui Bulan Dana tidak berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan. Seluruhnya kembali kepada masyarakat melalui berbagai layanan kemanusiaan, seperti penanggulangan bencana, pelayanan ambulans dan kesehatan, serta pembinaan generasi muda melalui kegiatan Palang Merah Remaja.

    Dengan kata lain, setiap rupiah yang dimasukkan masyarakat ke dalam kaleng donasi benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan yang nyata.

    Pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran yang sangat berharga. Kepedulian tidak ditentukan oleh besar kecilnya kemampuan seseorang, melainkan oleh kemauan untuk berbuat. Anak-anak sekolah dapat menyumbangkan tenaga dan waktunya sebagai relawan.

    Para pengguna jalan dapat berpartisipasi melalui donasi. Masyarakat dapat membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ketika setiap orang mengambil peran, sekecil apa pun kontribusinya, dampak yang dihasilkan akan menjadi sangat besar.

    Kini, cara menggalang dana mungkin telah berubah. Teknologi berkembang, metode semakin modern, dan berbagai aturan pun terus menyesuaikan zaman. Namun, nilai yang mendasarinya tetap sama: semangat gotong royong, kepedulian, dan keinginan untuk membantu sesama.

    Bulan Dana PMI Jakarta pada tahun 1972 menjadi pengingat bahwa gerakan kemanusiaan tidak selalu membutuhkan fasilitas yang mewah atau teknologi yang canggih.

    Berbekal sebuah kaleng donasi, semangat para relawan muda, dan kepercayaan masyarakat, ribuan aksi kemanusiaan dapat diwujudkan. Dari pengalaman itulah saya belajar bahwa membantu sesama bukanlah tentang seberapa besar yang kita miliki, melainkan seberapa besar kepedulian yang kita berikan.

    Karena pada akhirnya, semua bisa bantu masyarakat.

    Oleh: Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

  • Aku Bangga Jadi PMR; Bulan Dana PMI Pakai Map List

    Aku Bangga Jadi PMR; Bulan Dana PMI Pakai Map List

    Hari Sabtu pagi di sekolahku baunya beda. Bukan bau gorengan kantin, tapi bau minyak kayu putih, perban, plester, dan sedikit panik.

    Itu hari pertama pelatihan P3K bareng kakak-kakak senior PMR.

    “Kalian besok bisa jadi first aider,” kata Kak Zuli sambil menunjukkan bidai dari papan tipis bekas. “Sekarang, praktik balut bidai!”

    Temanku, Dika, langsung jadi korban. Tangannya dibalut rapi pakai perban, terus dikasih bidai dari papan tipis, lalu disuruh jalan kayak robot. Kami ketawa sampai bidainya copot dua kali.

    Materi selanjutnya lebih serius: luka robek, luka bakar, sampai pertolongan orang pingsan. Kak Zuli mempraktikkan cara memiringkan kepala, cek napas, dan melonggarkan baju. “Kalau ada yang pingsan jangan dikocok, ya. Bukan karpet,” katanya. Satu sekolah ketawa, tapi kami hafal.

    Latihan selesai, kami pikir bubar. Ternyata belum.

    Kak Zuli mengeluarkan setumpuk map putih PMI. “Nah, ini misi kedua. Kita ganti kaleng kencleng dengan map donasi. Lebih sopan, lebih rapi.”

    Tiap anggota PMR dapat satu map. Isinya surat tugas, foto kegiatan PMI, dan kertas daftar derma. Tugas kami: keliling.

    Awalnya aku malu setengah mati. Bayangin: anak kelas 8 bawa map, ngetok pintu rumah orang, terus bilang, “Permisi, donasi untuk PMI?” Rasanya kayak sales.

    Hari pertama aku memberanikan diri ke warung Bu Yanti. “Bu, donasi buat PMI, ya, Bu…”

    Bu Yanti malah ngasih aku es teh gratis. “Pinter, Nak. Nih, buat semangat.”

    Tapi nggak semua semanis itu. Pas lewat depan sekolah, ada gerombolan teman yang bukan anggota PMR. Salah satunya teriak, “Woi, ngapain jadi PMR? Cuma disuruh minta-minta doang!”

    Aku diem. Di dalam hati aku mikir, “Iya juga, ya…”

    Panas, malu, capek, terus ditolak orang. Emang kerjanya minta-minta?

    Tapi malamnya aku nonton berita. Ada banjir di daerah sebelah. Relawan PMI datang bawa perahu karet, obat-obatan, dan tenda. Di dadanya ada logo yang sama kayak di mapku.

    Terus aku inget pas latihan tadi. Kalau ada yang pingsan di jalan, aku udah tahu harus ngapain. Kalau ada yang kena luka, aku bisa balut. Kalau ada yang butuh bantuan, ada PMI yang bergerak, dan aku bagian kecil dari itu.

    Tiba-tiba rasa maluku menciut. Predikat first aider itu kedengarannya keren juga.

    Tantangannya banyak sih. Ditolak, kehujanan, map sobek ketiup angin, sampai harus jelasin ke bapak-bapak toko kalau “ini bukan penipuan, Pak, beneran PMI”. Tapi tiap kali pulang bawa amplop isi donasi, rasanya kayak menang lomba.

    Sekarang aku masih terus ikut latihan tiap minggu. Niatnya mau jadi anggota PMR Inti. Katanya kalau udah inti, bisa ikut posko, bisa ikut aksi beneran, bukan cuma simulasi pakai bidai papan tipis.

    Orang boleh bilang kami cuma “minta-minta”. Biarin.

    Karena aku tahu, di balik map putih PMI ini ada orang-orang yang tertolong.

    Dan iya,

    Aku bangga jadi PMR.

    Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089