Oleh : H. Asep Djuanda
Tanggal 2 Agustus 1989.
Kami berenam berangkat menuju Baturaja, Palembang. Ada Kak Salim, Kak Irwan Hutomo, Kak Dadang Bustanu, Kak Wan Chaidir, Kak Oghe, dan aku, Komarudin Rusdi. Orang-orang biasa memanggilku Komeng.
Keberangkatan kami ke Baturaja bermula dari Kak Wan Chaidir. Beliau bersaudara dengan Dandim Baturaja OKU saat itu.
“De, coba kamu kembangkan kegiatan PMR di sini. Kamu coba dulu di Baturaja,” ujar Pak Dandim.
“Siap, Komandan,” jawab Kak Wan Chaidir.
Obrolan itu berlanjut di warung kopi Kang Ribut. Tanpa disangka, ajakan Pak Dandim mendapat sambutan hangat dari para senior.
“Oke, kita atur waktunya. Insya Allah kita berangkat hari Rabu, tanggal dua Agustus. Kita naik kapal feri dari Merak,” ujar Kak Salim.
Kak Salim memang begitu. Beliau orang yang paling getol jika menyangkut kegiatan. Penuh gagasan. Dari tangannya lahir Gladian pertama yang menjadi cikal bakal lomba P3K antar PMR se-sekolah, yang kini kita kenal sebagai Inter Arma Caritas. Satu-satunya yang ada di Jakarta Pusat waktu itu.
Setibanya di Pelabuhan Bakauheni, kami dijemput utusan Pak Dandim dengan mobil Kijang menuju Kodim Baturaja. Markas PMI OKU, Baturaja masih menempati salah satu ruangan di RSU Baturaja tidak jauh dari Markas Kodim.
Sambutan mereka luar biasa. Kami disiapkan penginapan di Mess Kodim Baturaja.
Setelah berdiskusi dengan pengurus PMI Baturaja, keesokan harinya kami langsung tancap gas. Kami merencanakan diklat PMR dengan mengundang masing-masing 10 orang perwakilan siswa dari 21 sekolah-sekolah yang ada di Baturaja tingkat SMP dan SMA sederajat. Itulah diklat pertama kami untuk membentuk kader-kader kemanusiaan dari kalangan pelajar di Baturaja.
Perjalanan tidak mudah. Kami berenam tidak semuanya bisa bertahan sampai akhir. Masing-masing punya urusan yang harus diselesaikan.
Tinggallah kami bertiga: Kak Salim, Kak Oghe, dan aku. Alhamdulillah, dengan izin Allah, diklat itu selesai.
Seiring waktu, Kak Salim sebagai motivator dan mentor kami harus kembali ke Jakarta. Sebelum berpisah, beliau berpesan :
“Meng, jaga anak-anak kita. Jangan kamu tinggalkan mereka. Tidak mudah mencari orang yang mau mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Mereka adalah kader-kader kemanusiaan di PMI. Saya percaya kamu dan Oghe… bisa.”
Untuk itulah kami berdua bertahan hingga bertahun tahun lamanya karena pesan itu yang membuat kami harus memegang amanahnya. Kalimat itu masih terngiang sampai hari ini.
Tak lama setelah itu, aku mendengar kabar duka. Kak Salim mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sekujur badanku lemas mendengarnya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tak banyak kata yang bisa kuucapkan, selain doa untuk almarhum.
Selamat jalan, kakakku. Semoga apa yang kita lakukan selama ini untuk kemanusiaan menjadi wasilah kebaikan yang bernilai pahala di sisi-Nya. Aamiin.
(Diceritakan oleh Komarudin Rusdi, pelaku sejarah berdirinya PMR Baturaja).
