Tag: asep djuanda

  • Jean Henry Dunant Bapak Palang Merah Internasional

    Jean Henry Dunant Bapak Palang Merah Internasional

    Oleh : H. Asep Djuanda

    Jean Henry Dunant, bapak Palang Merah Internasional adalah seorang pengusaha dan aktivis sosial Swiss yang tergerak oleh kekejaman perang di Solferino tahun 1859 sehingga menggagas gerakan kemanusiaan internasional untuk membantu tentara yang terluka tanpa membedakan pihak, yang kemudian melahirkan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) pada tahun 1863.  

    Dilatarbelakangi Henry Dunant yang menyaksikan langsung ribuan korban perang di Solferino, Italia tanpa perawatan memadai. 

    Dari kejadian itu Dunant menulis buku Un Souvenir de Solferino atau a memory of Solferino yang didalam.buku tersebut Dunant mengusulkan dua gagasan brilian yaitu membentuk organisasi sukarela internasional untuk membantu tentara terluka dan perjanjian internasional untuk melindungi sukarelawan serta korban perang. 

    Atas bantuan teman temannya gagasan itu terwujud dengan pendirian Komite Internasional Palang Merah atau lebih dikenal InternasionalCommitte of the Red Cross (ICRC) di Jenewa pada tahun 1863, menjadikannya pelopor gerakan kemanusiaan global. 

    Sebagai lembaga kemanusiaan yang berbasis di Jenewa, Swiss dan sebagai peserta keempat Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 dan 2005, telah memberikan mandat kepada ICRC untuk melindungi korban konflik bersenjata internasional dan non-internasional serta mempromosikan pemahaman dan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional.

    Kini ICRC dipimpin Mirjana Spoljaric Egger yang menjabat sebagai presiden ICRC sejak Oktober 2022.

    Pada akhirnya cita cita Dunant yang ditulis dalam buku tersebut membuahkan hasil. Orang orang yang berjasa dalam membantu terwujudnya gagasan tersebut adalah Gustave Moynier, Guillaume-Henri Dufour, Louis Appia, dan Théodore Maunoir. (HADS/01.03.2026)

    Sumber : Buku KPM terbitan PMI Pusat

  • Aku dan PMR

    Aku dan PMR

    Oleh : H. Asep Djuanda

    Sewaktu aku duduk di bangku kelas 7 sebuah sekolah menengah di kawasan Gunung Sahari Kemayoran, ada pengumuman oleh seorang guru Aljabar waktu itu Pak Subur namanya.

    Beliau menawarkan dan mengajak para murid untuk mengikuti sebuah kegiatan ekstra kurikuler Palang Merah Remaja.

    Buat aku kegiatan itu asing dan tidak ada sedikitpun berkeinginan untuk mengikuti ajakan tersebut. Namun keesokan harinya guru tersebut terus mengajak dan kali ini bukan lagi tawaran tapi dengan “paksaan” harus mengikuti ekskul tersebut.

    Mau tidak mau aku ikuti ajakan itu, dan ternyata setelah beberapa kali mengikuti materi yang diajarkan para pelatih lambat laun menjadi terbiasa dan asyik untuk diikuti. Sampai ada rasa sayang bila pertemuan pelatihan tidak diikuti.

    Banyak sekali pelatihan yang membuat aku memahami bagaimana cara menolong orang yang luka, pingsan, balut bidai dan sebagainya.

    Kegigihan aku mengikuti pelatihan tersebut membawa aku terpilih untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan ke jenjang yang lebih tinggi dan formal yakni PMR Inti angkatan ke 3. Dari sekolahku aku dan Rostiana yang terpilih dari sekian banyak murid yang mengikuti ekskul PMR.

    Dalam pelatihan ini diwajibkan mengikuti pelatihan setiap pulang sekolah selama 6 bulan di kelas, sementara praktek dilapangan selama 7 hari di pusat diklat kesehatan angkatan darat di daerah Kramatjati.

    Alhamdulillah selesai dan dinyatakan lulus untuk selanjutnya dilantik menjadi PMR Inti angkatan ke 3 dengan nomor induk 74357089.

    Dari sinilah kreativitas dan motivasi untuk terus mengembangkan ekskul PMR mulai terpatri. Banyak yang telah aku lakukan untuk mentransformasikan keilmuan tentang kepalangmerahan kepada adik adik PMR disekolah.

    Pengalaman pelatihan yang begitu keras dan disiplin menjadikan kebiasaan perilaku hidup aku, dan dari sinilah aku mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan di masyarakat. I love PMR, I miss you. (HADS/02.03.2026)

  • A memori of Solferino

    A memori of Solferino

    Oleh : H. Asep Djuanda (Ketua PMI Kota Jakarta Pusat)

    Sebuah gagasan brilian yang disampaikan oleh humaniter Henry Dunant ditulis dalam sebuah buku yang berjudul A memory of Solferino atau Kenangan dari Solferino di tahun 1862.

    Dalam buku tersebut Henry Dunant memberikan dua gagasan penting hingga sekarang menjadi pondasi berdirinya Palang Merah dan perjanjian Internasional tentang aturan hukum yang mengatur peperangan.

    Gagasan tersebut disambut oleh kolega beliau seperti General Guillame Henri Dufour berlatar belakang militer, Dr. Theodore Maunoir Dokter dari Komisi Kebersihan dan Kesehatan Jenewa, Guntave Moynier adalah Pengacara dan Ketua Masyarakat Jenewa untuk Kesejahteraan Publik, serta Dr. Louis Appia seorang dokter bedah.

    Bersama Henry Dunant, mereka bersepakat untuk mewujudkan gagasan tersebut dengan membentuk Komite Lima.

    Komite Lima (sering disebut Komite Internasional Pertolongan Korban Luka, cikal bakal  berdirinya International Committe of the Red Cross atau ICRC).

    Mereka memelopori gerakan Palang Merah Internasional untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi tentara yang terluka, yang menghasilkan Konvensi Jenewa pertama. Sejak itu berdirilah Pakang Merah Internasional yang lebih dikenal ICRC. (ADS/28.02.2026).

  • 76 Tahun PMR Kita

    76 Tahun PMR Kita

    Oleh : H. Asep Djuanda (Ketua PMI Kota Jakarta Pusat)

    Palang Merah Remaja (PMR) di Indonesia resmi didirikan pada 1 Maret 1950, yang diprakarsai oleh Siti Dasimah dan Paramita Abdurrahman pasca Kongres PMI ke-4, yang bertugas membina kader muda dalam bidang kemanusiaan, kesehatan, dan pertolongan pertama.

    Tanggal 1 Maret diperingati sebagai Hari PMR Indonesia. Kebanyakan orang tidak lagi memperhatikan kelahirannya. Padahal dari sinilah bermunculan ide ide dan gagasan gagasan membangun generasi muda untuk menjadi kader kader muda insan Palang Merah, semisal saja munculnya Korps Sukarela dari unsur pemuda, siaga bencana berbasis masyarakat, tenaga sukarela dan sebagainya.

    Munculnya ide gagasan mendirikan kader remaja Palang Merah terinspirasi oleh gerakan remaja di negara lain yang membantu korban Perang Dunia I.

    Di Indonesia kemudian berkembang menjadi beberapa tingkatan seperti mulai, madya dan Wira. PMI berupaya menjadikan kader kemanusiaan dari mulai usia sekolah dasar, menengah hingga atas, yang pada akhirnya PMR merupakan bagian dari PMI yang didirikan tanggal 17 Seotember 1945.

    Hingga saat ini PMI sudah ribuan bahkan mungkin jutaan anggota remaja telah mendapatkan pemahaman tentang nilai nilai kemanusiaan, pembelajaran kesehatan dan bahkan kebencanaan.
    PMR peer leader, peer support dan peer educator.

    Selamat hari jadi PMR ke 76 tahun, bravo PMR…!