Category: Cerpen

  • 76 Tahun PMR Kita

    76 Tahun PMR Kita

    Oleh : H. Asep Djuanda (Ketua PMI Kota Jakarta Pusat)

    Palang Merah Remaja (PMR) di Indonesia resmi didirikan pada 1 Maret 1950, yang diprakarsai oleh Siti Dasimah dan Paramita Abdurrahman pasca Kongres PMI ke-4, yang bertugas membina kader muda dalam bidang kemanusiaan, kesehatan, dan pertolongan pertama.

    Tanggal 1 Maret diperingati sebagai Hari PMR Indonesia. Kebanyakan orang tidak lagi memperhatikan kelahirannya. Padahal dari sinilah bermunculan ide ide dan gagasan gagasan membangun generasi muda untuk menjadi kader kader muda insan Palang Merah, semisal saja munculnya Korps Sukarela dari unsur pemuda, siaga bencana berbasis masyarakat, tenaga sukarela dan sebagainya.

    Munculnya ide gagasan mendirikan kader remaja Palang Merah terinspirasi oleh gerakan remaja di negara lain yang membantu korban Perang Dunia I.

    Di Indonesia kemudian berkembang menjadi beberapa tingkatan seperti mulai, madya dan Wira. PMI berupaya menjadikan kader kemanusiaan dari mulai usia sekolah dasar, menengah hingga atas, yang pada akhirnya PMR merupakan bagian dari PMI yang didirikan tanggal 17 Seotember 1945.

    Hingga saat ini PMI sudah ribuan bahkan mungkin jutaan anggota remaja telah mendapatkan pemahaman tentang nilai nilai kemanusiaan, pembelajaran kesehatan dan bahkan kebencanaan.
    PMR peer leader, peer support dan peer educator.

    Selamat hari jadi PMR ke 76 tahun, bravo PMR…!

  • 167 Tahun Palang Merah Internasional

    167 Tahun Palang Merah Internasional

    Oleh : Asep Djuanda (Ketua PMI Kota Jakarta Pusat)

    167 tahun yang lalu seorang pengusaha muda dari Swiss Henry Dunant berniat untuk melakukan perjalanan bisnis dengan kaisar Napoleon III di Perancis. Dalam perjalanan beliau terjebak dalam situasi peperangan antara tentara Perancis dan Austria didesa Solferino di Italia Utara.

    Pertempuran Solferino terjadi pada 24 Juni 1859 yang dimenangkan oleh gabungan tentara Prancis pimpinan Napoleon III dan tentara Sardinia di bawah pimpinan Victor Emmanuel II. Mereka melawan tentara Austria di bawah pimpinan Franz Josef I.

    Tentu saja pertempuran yang tidak seimbang ini banyak menelan korban dari pihak Austria.

    Pertempuran terbuka lebih 9 jam tersebut telah banyak menelan korban. Menurut catatan sejarah jumlah korban dari Austria nencapai 3.000 tentara terbunuh dengan 10,807 cedera dan 8.638 hilang atau ditawan.

    Situasi seperti ini menggugah Henry Dunant untuk terjun langsung menolong korban terutama yang cedera. Bekerja sama dengan masyrakat sekitar area konflik membawa para korban ke dalam gereja intuk dilakukan pertolongan. Disana beliau merawat luka seadanya mengingat keterbatasan alat medis dan obat obatan.

    Ada korban luka parah yang pada akhirnya meninggal dunia meminta untuk menyampaikan pesan kepada keluarganya. Menyaksikan situasi perang seperti ini membaut hatinya terenyuh dan terpanggil untuk bagaimana caranya bisa melahirkan gagasan guna mendirikan badan yang khusus bisa membantu orang korban.

    Sekembalinya HD ke Swiss tahun 1862, beliau menulis buku yang berjudul A Memory of Solferino. Henry Dunant seorang humaniter Swiss yang menyaksikan kengerian Pertempuran Solferino, telah mendokumentasikan penderitaan korban perang dan mengusulkan pembentukan organisasi sukarela serta perjanjian internasional untuk melindungi prajurit yang terluka, yang memicu berdirinya Palang Merah Internasional. Itulah cerita pendek tentang asal muasal berdirinya Palang Merah Internasional. (ADS/28.02.2026)

  • Makna Puasa Ramadhan dalam Kehidupan Keluarga

    Makna Puasa Ramadhan dalam Kehidupan Keluarga

    Saya punya seorang Paman, namanya Mardjuki Arkiang (almarhum), beliau seorang Muslim yang sangat taat sekali, bibi saya asli orang Bali beragama Hindu taat, mereka tinggal di Ambon di Hative kecil kompleka Agraria.

    Suatu saat saya mengenangnya, saya bertugas di Ambon sekitar tahun 80an. Disana saya mendapat sakit cukup parah sehingga ponda menginap di rumah Paman saya, selama satu minggu tinggal disana bertepatan bulan puasa.

    Hubungan keluarga, saya dekat dengan Paman dan Bibi saya, selama saya sakit Bibi selalu menyiapkan makanan buat saya, tetapi kita juga sahur dan buka bersama menemani paman saya, sungguh sebuah tingkat toleransi yang luar biasa, kenangan ini selalu ku ingat.

    Saya memiliki sahabat yang saya anggap keluarga atau ayah dan Ibu di Jakarta. Bapak Rustam Efendy (Almarhum) seorang muslim yang taat beliau ketua Masyarakat Dayak dan pendiri HITACHi di Indonesia dan Ibu atau Mami Irene (alamarhum) seorang Kristen yang sangat taat.

    Hubungan kami sudah seperti ayah ibu dan anak, ada kisah suatu hari Bapak Rustam Efendy dan Ibu Irene ke tanah suci naik haji bersama juga kunjungan ke Vatikan bersama.

    Tidak ada saling memaksakan pindah agama, tetapi saling mencinta. Suatu sore bapak Rustam telepon saya mau ajak dinner bersama di Pacific Place, karena saya dan beliau datang kepagian, maka kita ngopi dulu sambil menikmati singkong goreng.

    Lalu saya bertanya kepada beliau

    “Papi kan seorang muslim taat dan mami juga seorang Kristen taat apakah tidak pernah bertengkar selama lebih 50 tahun kawin “

    “Pasti ada pertengkaran, mana mungkin hidup perkawinan tanpa selisih paham, tapi Mamimu itu orangnya suka bercanda, setiap kali bertengkar selalu di bawa canda akhirnya bukan ribut tapi semua jadi tertawa”

    Suatu hari Bapak Rustam sakit masuk Rumah sakit di Mount Elisabeth Singapura, saya dan Istri menjenguk, dan kita cari kesukaan mereka, makan bersama. Bapak Rustam Suka makan nasi lemak. Ibu Irene suka Tori (Non halal). Kita makan tapi wangi Sate Babi kuat sekali. Mami Irene bilang Nasi lemak rasa babi, kita bercanda, semua tertawa Riang Gembira.

    Kini mereka semua sudah istirahat dalam damai Surgawi tetapi Aku tetap mengenang mereka semua karena menjadi bagian dari suka cita hidupku. Sebuah kisah toleransi yang luar biasa.

    Kenangan Ramadan selalu menjadi dasar pemikiran bagaimana hidup berdampingan dalam damai dan suka cita. Marhaban yaa Ramadhan. Bulan suci kembali menyapa umat manusia dengan kelembutan dan cahaya yang menenangkan jiwa.

    Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan sebuah undangan ilahi untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menata hati, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, dengan sesama, dan dengan keluarga.

    Puasa di bulan Ramadhan mengajarkan makna pengendalian diri, kejujuran batin, dan kepedulian yang tulus. Puasa diwajibkan bagi umat Islam sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

    Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan.

    Dalam lingkup keluarga, Ramadhan menjadi madrasah pertama dan utama. Di rumah sederhana itu, nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan dipelajari bukan lewat ceramah panjang, melainkan melalui teladan, kebiasaan, dan kebersamaan. Saat sahur, anggota keluarga bangun lebih awal, saling membangunkan dengan senyum dan kesabaran.

    Meja makan mungkin tidak mewah, namun kehangatan doa dan niat yang lurus menjadikannya penuh berkah.

    Puasa juga menjadi ruang pertemuan hati. Dalam kesibukan sehari-hari, sering kali keluarga terpisah oleh rutinitas, perbedaan pendapat, bahkan luka yang tak terucap.

    Kenangan Paman Dan Bibi Saya, Papi Rustam dan Mami Irene selalu menggiring hati saya jadi damai. Ramadhan mempertemukan kembali mereka dalam suasana yang lebih lembut.

    Waktu berbuka puasa menjadi momen sakral: semua duduk bersama, menunggu azan magrib, menahan diri dari keluh kesah, dan memulai dengan doa.

    Di sanalah percakapan sederhana berubah menjadi jembatan pengertian.

    Tak jarang, Ramadhan menghadirkan proses pengampunan. Kesalahan masa lalu kata yang menyakitkan, sikap yang melukai perlahan mencair dalam semangat memohon maaf lahir dan batin.

    Orang tua belajar merendahkan hati kepada anak, dan anak belajar menghormati orang tua dengan ketulusan.

    Pengampunan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan jiwa yang telah disentuh cahaya Ramadhan.

    Ikatan keluarga pun semakin erat. Shalat tarawih yang dikerjakan bersama, tadarus Al-Qur’an di ruang tamu, atau sekadar berbagi cerita menjelang tidur menjadi benang-benang halus yang merajut kebersamaan.

    Dalam keheningan malam, keluarga belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kelimpahan materi, melainkan dari kebersamaan yang penuh makna.

    Sebuah kisah tentang keluarga sederhana dapat menggambarkan hal ini. Ayah yang lelah bekerja, ibu yang setia mengurus rumah, dan anak-anak dengan segala keunikan mereka.

    Di bulan Ramadhan, mereka sepakat untuk saling menjaga lisan dan perasaan.

    Ketika perbedaan muncul, mereka belajar menahan amarah karena puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan ego.

    Dari situ tumbuh cinta kasih yang dewasa cinta yang memahami, bukan menuntut.

    Ramadhan juga mengajarkan toleransi, bahkan di dalam keluarga sendiri.

    Setiap anggota memiliki kemampuan dan kekuatan yang berbeda. Ada yang kuat berpuasa penuh, ada yang masih belajar.

    Ada yang rajin ibadah sunnah, ada yang perlahan memperbaiki diri.

    Toleransi berarti saling menguatkan tanpa menghakimi, saling mendoakan tanpa merasa lebih baik.

    Inilah nilai luhur yang kelak dibawa keluar rumah, ke tengah masyarakat yang majemuk.

    Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan spiritual keluarga menuju kebersamaan yang lebih dalam. Ia membentuk pribadi yang lebih sabar, keluarga yang lebih hangat, dan masyarakat yang lebih peduli.

    Semoga di bulan penuh berkah ini, kita semua diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan sempurna, dipanjangkan umur, dilapangkan rezeki, disehatkan lahir batin, serta dianugerahi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

    Oleh : Adharta (Ketua Umum KRIS), dikutip dari www.kris.ir.id, www.adharta.com.