Category: Cerpen

  • Aku Bangga Jadi PMR; Bulan Dana PMI Pakai Map List

    Aku Bangga Jadi PMR; Bulan Dana PMI Pakai Map List

    Hari Sabtu pagi di sekolahku baunya beda. Bukan bau gorengan kantin, tapi bau minyak kayu putih, perban, plester, dan sedikit panik.

    Itu hari pertama pelatihan P3K bareng kakak-kakak senior PMR.

    “Kalian besok bisa jadi first aider,” kata Kak Zuli sambil menunjukkan bidai dari papan tipis bekas. “Sekarang, praktik balut bidai!”

    Temanku, Dika, langsung jadi korban. Tangannya dibalut rapi pakai perban, terus dikasih bidai dari papan tipis, lalu disuruh jalan kayak robot. Kami ketawa sampai bidainya copot dua kali.

    Materi selanjutnya lebih serius: luka robek, luka bakar, sampai pertolongan orang pingsan. Kak Zuli mempraktikkan cara memiringkan kepala, cek napas, dan melonggarkan baju. “Kalau ada yang pingsan jangan dikocok, ya. Bukan karpet,” katanya. Satu sekolah ketawa, tapi kami hafal.

    Latihan selesai, kami pikir bubar. Ternyata belum.

    Kak Zuli mengeluarkan setumpuk map putih PMI. “Nah, ini misi kedua. Kita ganti kaleng kencleng dengan map donasi. Lebih sopan, lebih rapi.”

    Tiap anggota PMR dapat satu map. Isinya surat tugas, foto kegiatan PMI, dan kertas daftar derma. Tugas kami: keliling.

    Awalnya aku malu setengah mati. Bayangin: anak kelas 8 bawa map, ngetok pintu rumah orang, terus bilang, “Permisi, donasi untuk PMI?” Rasanya kayak sales.

    Hari pertama aku memberanikan diri ke warung Bu Yanti. “Bu, donasi buat PMI, ya, Bu…”

    Bu Yanti malah ngasih aku es teh gratis. “Pinter, Nak. Nih, buat semangat.”

    Tapi nggak semua semanis itu. Pas lewat depan sekolah, ada gerombolan teman yang bukan anggota PMR. Salah satunya teriak, “Woi, ngapain jadi PMR? Cuma disuruh minta-minta doang!”

    Aku diem. Di dalam hati aku mikir, “Iya juga, ya…”

    Panas, malu, capek, terus ditolak orang. Emang kerjanya minta-minta?

    Tapi malamnya aku nonton berita. Ada banjir di daerah sebelah. Relawan PMI datang bawa perahu karet, obat-obatan, dan tenda. Di dadanya ada logo yang sama kayak di mapku.

    Terus aku inget pas latihan tadi. Kalau ada yang pingsan di jalan, aku udah tahu harus ngapain. Kalau ada yang kena luka, aku bisa balut. Kalau ada yang butuh bantuan, ada PMI yang bergerak, dan aku bagian kecil dari itu.

    Tiba-tiba rasa maluku menciut. Predikat first aider itu kedengarannya keren juga.

    Tantangannya banyak sih. Ditolak, kehujanan, map sobek ketiup angin, sampai harus jelasin ke bapak-bapak toko kalau “ini bukan penipuan, Pak, beneran PMI”. Tapi tiap kali pulang bawa amplop isi donasi, rasanya kayak menang lomba.

    Sekarang aku masih terus ikut latihan tiap minggu. Niatnya mau jadi anggota PMR Inti. Katanya kalau udah inti, bisa ikut posko, bisa ikut aksi beneran, bukan cuma simulasi pakai bidai papan tipis.

    Orang boleh bilang kami cuma “minta-minta”. Biarin.

    Karena aku tahu, di balik map putih PMI ini ada orang-orang yang tertolong.

    Dan iya,

    Aku bangga jadi PMR.

    Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

  • PMR Bikin Kita Kreatif dan Peduli

    PMR Bikin Kita Kreatif dan Peduli

    Oleh: Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

    Aku masih ingat betul sore pertama kali masuk ruang PMR. Baunya kaporit bercampur plester. Di meja ada manekin, perban, dan bidai kayu.

    “Kamu berani nggak balut luka?” tanya kakak pembina sambil menyodorkan kain kasa.

    Tanganku gemetar. Tapi sejak hari itu, aku belajar banyak. Balut bidai, rawat luka robek, sampai simulasi pertolongan untuk luka tembak. Rasanya berat, tapi justru dari situ aku jadi ngerti: peduli itu harus siap kotor-kotoran.

    PMR nggak cuma di dalam kelas. Ada giat sosial ke kampung, donor darah keliling, sampai jaga pos saat banjir. Tiap pulang kegiatan, badan capek tapi hati anget. Karena kita tahu, ilmu yang dilatih hari ini bisa kepakai besok buat nolong orang beneran.

    Di sela latihan, kami jadi banyak teman. Anak SMP, SMA, dari sekolah beda-beda duduk satu lingkaran. Obrolan kami nggak pernah jauh dari “besok kita bikin apa ya biar PMR makin rame?”

    Dari obrolan itulah muncul ide gila: gimana kalau kita bikin lomba P3K sendiri?
    Awalnya cuma iseng. Tapi lama-lama serius. Kami rembukan, patungan ide, sampai akhirnya lahirlah sebuah gagasan. Kami namai Gladian.

    Desember 1979. Hari H tiba. 214 peserta datang dari sekolah-sekolah yang sudah punya PMR. Mereka datang bawa semangat, bukan bawa uang. Panitia minta kontribusi koran bekas dan botol. Itu yang kami jual buat beli plester dan sewa lapangan.

    Ada lomba hiking, cross country, musik dapur, dan tentu saja lomba P3K. Tapi yang paling aku ingat malam api unggun. Di tengah gelap, kami nyanyi, main drama, baca puisi. Di situ aku sadar, PMR ngajarin kami menolong, sekaligus ngajarin kami berkarya.

    Gladian kemudian tumbuh. Namanya berubah jadi Inter Arma Caritas — “di tengah pertempuran terdapat kasih sayang”. Kalimat itu terus kami pegang. Kegiatannya bergilir sampai tahun 1991.

    Tahun 2000, PMI DKI dan Nasional memberi nama baru: Jumpa Bakti Gembira. Sampai tahun 2026 ini, PMI Kota Jakarta Pusat sudah 12 kali menggelarnya.

    Angkanya bikin merinding kalau dihitung: 11.107 anggota PMR sudah pernah meramaikan kegiatan itu sejak pertama kali 1979. Dari koran bekas dan botol, jadi gerakan sebesar ini.

    Sekarang kalau ada orang tanya, “PMR ngajarin apa sih?”

    Aku jawab singkat aja: PMR bikin kita kreatif buat bikin kegiatan, dan bikin kita peduli buat turun tangan.

    Karena di tengah luka, di tengah lelah, di tengah pertempuran hidup… selalu ada ruang untuk kasih sayang (ADS-74357089)

  • Pengalaman yang Tak Terlupakan

    Pengalaman yang Tak Terlupakan

    Dulu waktu aku jadi anggota PMR, rasanya hidup jadi lebih sibuk tapi juga lebih hidup.

    Malam muda mudi peringatan HUT Jakarta tahun 74, 75, 76 itu paling berkesan. Aku ditugaskan jaga layanan kesehatan bareng teman-teman PMR dari sekolah lain. Lapangan penuh orang, musiknya kencang, tapi kami justru sibuk keliling bawa kotak P3K.

    Ada yang pingsan karena desakan, ada yg kepalanya luka kena batu, ada yang kakinya lecet, ada juga yang cuma butuh air putih dan tempat duduk. Capek iya, tapi bangga juga karena ngerasa berguna.

    Dari situ aku ketagihan. Pernah juga aku ikut Jumbara di Bali dan Semarang. Ketemu PMR dari daerah lain, tukar ilmu, tidur beralaskan tenda, makan bareng. Pokoknya asik deh.

    Terus lanjut ikut lomba P3K PMI se-DKI, bahkan sampai tingkat nasional. Deg-degan waktu simulasi, tapi seru karena semua serius mau nolong dengan benar.

    Beranjak dewasa, materi PMR-nya makin menantang. Salah satunya pelatihan pertolongan gigitan ular berbisa. Pelatih kami waktu itu orangnya cekatan dan berani.

    Untuk nunjukin cara penanganan darurat, beliau memperagakan langsung: menghisap luka bekas gigitan pakai mulutnya. Kami semua diam, merhatiin serius.

    Tapi beliau nggak sadar, di bibirnya lagi ada sariawan. Beberapa saat kemudian keadaannya berubah. Bisa ular itu masuk. Dan malam itu juga beliau nggak tertolong. Sedih banget…

    Ruangan yang tadinya ramai jadi hening. Kami yang masih remaja waktu itu kaget, sedih, dan takut.

    Sejak hari itu prinsipku berubah. Aku jadi jauh lebih hati-hati kalau nolong orang terluka. Mau lukanya kecil atau besar, aturannya harus pas. Sarung tangan, alat, prosedur, nggak ada yang boleh diskip.

    Dulu aku hafal banget P3K itu Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
    Tapi setelah kejadian itu, aku sering nyeletuk ke adik-adik PMR:
    “Ingat ya, kalau sembarangan, bisa jadi KP3. Kecelakaan Pada Pertolongan Pertama.”

    Kalimat itu kedengarannya lucu, tapi maksudnya serius. Karena nolong orang itu mulia, tapi harus pakai ilmu dan kehati-hatian. Nyawa orang lain, dan nyawa kita sendiri, sama berharganya.

    Bravo PMI Jakpus

  • Tawaran di Tengah Lapangan

    Tawaran di Tengah Lapangan

    Oleh: Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

    Kelas 8 SMP. Istirahat kedua.
    Aku lagi duduk di bangku beton pinggir lapangan, sambil ngabisin cilok 2 tusuk terakhir dan ngelap keringat pakai lengan baju.

    Tiba-tiba ada kakak kelas 9 lewat bawa tas PMR warna merah, lengannya ada ban lengan putih palang merah. Di belakangnya 3 anak bawa tandu lipat sama kotak P3K gede banget.

    “Eh kamu,” kakaknya nunjuk aku.
    Aku nunjuk diri sendiri? “Saya?”
    “Iya kamu. Mau gabung PMR nggak? Lagi butuh anggota baru nih. Yang berani, yang nggak penakut liat darah.”

    Dalam hati: Darah? Aku aja liat jarum suntik udah mau pingsan.

    Tapi pas liat mereka latihan simulasi pertolongan pertama, ada yang jadi “korban” pura-pura terkilir, ada yang sigap balut perban, ada yang teriak “barisan siap!” — entah kenapa kerasa keren.

    Hari itu aku pulang bawa selembar formulir pendaftaran.
    Warna merah. Ada logo palang merah di pojoknya.

    Minggu pertama latihan: disuruh hafalin 7 langkah cuci tangan, belajar bedain luka lecet sama luka sobek, dan yang paling bikin trauma… disuruh jadi korban pingsan di depan lapangan upacara 😭
    Temen-temen nonton. Ada yang ketawa. Ada yang beneran panik.

    Tapi lama-lama aku suka.
    Suka pas bisa ngebantu temen yang jatuh pas futsal. Suka pas bisa bikin tandu darurat + selimut lurik. Pas upacara 17-an kita ditugasi jaga pos kesehatan diruangan PMR sekolah, dan kebetulan ada adik kelas yang pusing karena kepanasan terjatuh dalam barisan upacara.

    Dari anak yang awalnya cuma “ditawari iseng” di pinggir lapangan,
    akhirnya aku jadi anak PMR yang tiap ada acara PMI dan sekolah pasti bawa kotak P3K kemana-mana.

    Sampe sekarang kalau liat palang merah, aku keinginan kalau
    keberanian tuh kadang datangnya bukan karena kita siap. Tapi karena ada orang yang duluan percaya kita bisa.

    Daahhhhh salam buat kamu.

  • Pengalaman yang Tak Terlupakan; Kecelakaan Pada Pertolongan Pertama

    Pengalaman yang Tak Terlupakan; Kecelakaan Pada Pertolongan Pertama

    Oleh : Kang Ajun

    Cerita pengalaman ini sebenarnya sudah pernah aku tulis di media Berita PMI tahun 80an. Cerita dimana aku pernah mengikuti pelatihan bagaimana cara mengatasi ketika luka digigit ular berbisa.

    Waktu itu aku baru lulus sekolah tingkat menengah atas. Aku memperoleh kesempatan untuk mengikuti pelatihan tersebut di Bandung.

    Singkat cerita pelatih menjelaskan tentang pertolongan pertama pada kecelakaan dengan membawa alat peraga ular cobra, pisau dan verban.

    Pelatih menjelaskan bahwa bilamana terjadi digigit ular berbisa maka yang harus kita lakukan sebagai penolong dengan melakukan guratan menyilang dititik luka gigitan, kemudian dihisap untuk mengeluarkan darahnya agar bisa/racun ularnya bisa dikeluarkan.

    Setelah mempraktekkan itu semua peserta latihan dibuat kaget dan ketakutan, karena pelatihnya justru terkapar tak sadarkan diri.

    Sebagian pelatih lainnya segera membawanya ke rumah sakit terdekat, dan ternyata sudah tidak tertolong lagi. Gugurlah pelatih kami.

    Apa yang menyebabkan kematian tersebut akhirnya diperoleh jawaban dari keluarganya, dari dokter yang menanganinya menjelaskan bahwa ketika melakukan praktek pelatih dalam keadaan sakit sariawan dimulutnya, sehingga diduga racun itu masuk melalui luka sariawannya.

    Inilah pengalaman yang tak pernah terlupakan dan memberikan pengalaman yang sangat berharga, bahwa setiap penolong wajib mempersiapkan secara baik dan mengontrol kondisi kesehatan nya.

    Bukannya pertolongan pertama pada kecelakaan justru malah kecelakaan pada pertolongan pertama.

  • Kenapa Harus Ikut Ekskul PMR?

    Kenapa Harus Ikut Ekskul PMR?

    Berawal dari ikut sertanya aku menjadi anggota remaja Palang Merah. Orang mengenalnya Palang Merah Remaja.

    Dari sinilah aku mulai mengenal arti menolong orang yang perlu kita tolong.

    Oh ternyata menolong orang yang perlu kita tolong itu bagian dari nilai nilai kemanusiaan yang sering aku dengar tapi aku belum memahaminya.

    Sedikit demi sedikit akhirnya aku mengerti dan faham tentang bagaimana sebaiknya kita sebagai makhluk sosial bisa memiliki nilai nilai kemanusiaan yang juga diajarkan dalam nilai nilai agama.

    Bagaimana kita harus bersikap, menghargai orang lain sampai kepada pentingnya menjunjung tinggi martabat manusia.

    Nilai-nilai kemanusiaan dan martabat manusia adalah prinsip fundamental yang mengakui setiap individu memiliki harkat bawaan yang harus dihormati, terlepas dari ras, agama, atau status.

    Nilai ini mencakup kasih sayang, keadilan, empati, dan penghormatan terhadap integritas fisik serta psikologis manusia.

    Nilai nilai kemanusiaan inilah yang mendorong aku untuk terus berada dalam lingkungan sosial yang dekat dengan nilai nilai tersebut, yaitu Palang Metah Remaja.

    PMR mengajarkan kita berkeyakinan bahwa semua orang memiliki nilai khusus yang melekat sejak lahir, bukan berdasarkan kelas, kemampuan, atau faktor lainnya.

    Sedangkan nilai kemanusiaan menghargai prinsip etika atau moral yang memandu perilaku manusia untuk menghormati martabat tersebut, seperti kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan tanpa kekerasan.

    Nilai-nilai inilah yang melekat dihati ketika para senior mengajarkannya saat itu.

    Kemampuan merasakan perasaan orang lain dan bertindak penuh perhatian, memperlakukan setiap individu dengan adil, tanpa penindasan atau diskriminasi, menjunjung tinggi integritas fisik dan psikologis orang, semangat gotong royong dan membantu sesama, khususnya dalam situasi darurat, menghargai perbedaan dan meminimalkan konflik, nilai nilai inilah yang melekat pada diri manusia semata-mata karena mereka manusia.

    Nilai nilai itu hingga kini terus terbawa disetiap aku melakukan berbagai aktivitas.

    Nilai nilai itu pula yang Allah ajarkan kepada manusia, bahwa sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

    Teruslah berbuat baik sampai kita kembali kehadapanNya. Semoga Allah, Tuhan yang maha esa menjaga keistiqomahan kita dalam menegakkan nilai nilai kemanusiaan.

    Salam,
    Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan III/1974
    PMI Kota Jakarta Pusat
    Nomor Induk 74357089

  • Panggilan Darurat di Tengah Malam Berujung Kabar Duka

    Panggilan Darurat di Tengah Malam Berujung Kabar Duka

    Malam Selasa (19/05/2026), suasana di kawasan Batu Ceper 9, Jakarta Pusat, tampak tenang. Namun di salah satu rumah warga, kepanikan menyelimuti keluarga Tn. Tomi Nur (65). Selama kurang lebih setengah jam, pria lanjut usia tersebut tidak merespon dan berada dalam kondisi tidak sadarkan diri.

    Dalam kepanikan, pihak keluarga segera menghubungi Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jakarta Pusat pada pukul 21.42 WIB untuk meminta bantuan medis darurat.

    Tak lama setelah laporan diterima, petugas PMI Jakarta Pusat langsung bergerak menuju lokasi. Setibanya di rumah pasien, tim segera melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi korban.

    Petugas melakukan pengecekan tanda-tanda vital dan respons tubuh pasien. Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan. Kondisi pupil pasien diketahui tidak merespon, dengan keadaan anisokor dan midriasis. Selain itu, bagian ekstremitas atas maupun bawah sudah dalam kondisi kaku.

    Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, pasien dinyatakan telah meninggal dunia di lokasi.

    Setelah penanganan selesai dilakukan, petugas PMI Jakarta Pusat memberikan edukasi kepada pihak keluarga agar segera menghubungi dokter puskesmas guna pemeriksaan lanjutan sekaligus pengurusan surat keterangan kematian.

    Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya respon cepat dalam kondisi darurat kesehatan, sekaligus bentuk pelayanan kemanusiaan yang terus dilakukan PMI Jakarta Pusat kepada masyarakat selama 24 jam.

  • Jean Henry Dunant Bapak Palang Merah Internasional

    Jean Henry Dunant Bapak Palang Merah Internasional

    Oleh : H. Asep Djuanda

    Jean Henry Dunant, bapak Palang Merah Internasional adalah seorang pengusaha dan aktivis sosial Swiss yang tergerak oleh kekejaman perang di Solferino tahun 1859 sehingga menggagas gerakan kemanusiaan internasional untuk membantu tentara yang terluka tanpa membedakan pihak, yang kemudian melahirkan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) pada tahun 1863.  

    Dilatarbelakangi Henry Dunant yang menyaksikan langsung ribuan korban perang di Solferino, Italia tanpa perawatan memadai. 

    Dari kejadian itu Dunant menulis buku Un Souvenir de Solferino atau a memory of Solferino yang didalam.buku tersebut Dunant mengusulkan dua gagasan brilian yaitu membentuk organisasi sukarela internasional untuk membantu tentara terluka dan perjanjian internasional untuk melindungi sukarelawan serta korban perang. 

    Atas bantuan teman temannya gagasan itu terwujud dengan pendirian Komite Internasional Palang Merah atau lebih dikenal InternasionalCommitte of the Red Cross (ICRC) di Jenewa pada tahun 1863, menjadikannya pelopor gerakan kemanusiaan global. 

    Sebagai lembaga kemanusiaan yang berbasis di Jenewa, Swiss dan sebagai peserta keempat Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 dan 2005, telah memberikan mandat kepada ICRC untuk melindungi korban konflik bersenjata internasional dan non-internasional serta mempromosikan pemahaman dan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional.

    Kini ICRC dipimpin Mirjana Spoljaric Egger yang menjabat sebagai presiden ICRC sejak Oktober 2022.

    Pada akhirnya cita cita Dunant yang ditulis dalam buku tersebut membuahkan hasil. Orang orang yang berjasa dalam membantu terwujudnya gagasan tersebut adalah Gustave Moynier, Guillaume-Henri Dufour, Louis Appia, dan Théodore Maunoir. (HADS/01.03.2026)

    Sumber : Buku KPM terbitan PMI Pusat

  • Aku dan PMR

    Aku dan PMR

    Oleh : H. Asep Djuanda

    Sewaktu aku duduk di bangku kelas 7 sebuah sekolah menengah di kawasan Gunung Sahari Kemayoran, ada pengumuman oleh seorang guru Aljabar waktu itu Pak Subur namanya.

    Beliau menawarkan dan mengajak para murid untuk mengikuti sebuah kegiatan ekstra kurikuler Palang Merah Remaja.

    Buat aku kegiatan itu asing dan tidak ada sedikitpun berkeinginan untuk mengikuti ajakan tersebut. Namun keesokan harinya guru tersebut terus mengajak dan kali ini bukan lagi tawaran tapi dengan “paksaan” harus mengikuti ekskul tersebut.

    Mau tidak mau aku ikuti ajakan itu, dan ternyata setelah beberapa kali mengikuti materi yang diajarkan para pelatih lambat laun menjadi terbiasa dan asyik untuk diikuti. Sampai ada rasa sayang bila pertemuan pelatihan tidak diikuti.

    Banyak sekali pelatihan yang membuat aku memahami bagaimana cara menolong orang yang luka, pingsan, balut bidai dan sebagainya.

    Kegigihan aku mengikuti pelatihan tersebut membawa aku terpilih untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan ke jenjang yang lebih tinggi dan formal yakni PMR Inti angkatan ke 3. Dari sekolahku aku dan Rostiana yang terpilih dari sekian banyak murid yang mengikuti ekskul PMR.

    Dalam pelatihan ini diwajibkan mengikuti pelatihan setiap pulang sekolah selama 6 bulan di kelas, sementara praktek dilapangan selama 7 hari di pusat diklat kesehatan angkatan darat di daerah Kramatjati.

    Alhamdulillah selesai dan dinyatakan lulus untuk selanjutnya dilantik menjadi PMR Inti angkatan ke 3 dengan nomor induk 74357089.

    Dari sinilah kreativitas dan motivasi untuk terus mengembangkan ekskul PMR mulai terpatri. Banyak yang telah aku lakukan untuk mentransformasikan keilmuan tentang kepalangmerahan kepada adik adik PMR disekolah.

    Pengalaman pelatihan yang begitu keras dan disiplin menjadikan kebiasaan perilaku hidup aku, dan dari sinilah aku mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan di masyarakat. I love PMR, I miss you. (HADS/02.03.2026)

  • A memori of Solferino

    A memori of Solferino

    Oleh : H. Asep Djuanda (Ketua PMI Kota Jakarta Pusat)

    Sebuah gagasan brilian yang disampaikan oleh humaniter Henry Dunant ditulis dalam sebuah buku yang berjudul A memory of Solferino atau Kenangan dari Solferino di tahun 1862.

    Dalam buku tersebut Henry Dunant memberikan dua gagasan penting hingga sekarang menjadi pondasi berdirinya Palang Merah dan perjanjian Internasional tentang aturan hukum yang mengatur peperangan.

    Gagasan tersebut disambut oleh kolega beliau seperti General Guillame Henri Dufour berlatar belakang militer, Dr. Theodore Maunoir Dokter dari Komisi Kebersihan dan Kesehatan Jenewa, Guntave Moynier adalah Pengacara dan Ketua Masyarakat Jenewa untuk Kesejahteraan Publik, serta Dr. Louis Appia seorang dokter bedah.

    Bersama Henry Dunant, mereka bersepakat untuk mewujudkan gagasan tersebut dengan membentuk Komite Lima.

    Komite Lima (sering disebut Komite Internasional Pertolongan Korban Luka, cikal bakal  berdirinya International Committe of the Red Cross atau ICRC).

    Mereka memelopori gerakan Palang Merah Internasional untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi tentara yang terluka, yang menghasilkan Konvensi Jenewa pertama. Sejak itu berdirilah Pakang Merah Internasional yang lebih dikenal ICRC. (ADS/28.02.2026).