Category: Cerpen

  • Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang untuk Berprestasi

    Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang untuk Berprestasi

    Kisah Noorsyirwan, Relawan Berprestasi dari Jakarta Pusat

    Oleh: H. Asep Djuanda

    Keterbatasan fisik bukan alasan untuk minder. Dengan semangat, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar, siapa pun dapat berkarya dan memberikan manfaat bagi sesama.

    Itulah semangat yang tergambar dalam perjalanan Noorsyirwan, atau yang akrab disapa Kak Noor, seorang relawan dan pembina Palang Merah Remaja (PMR) dari Jakarta Pusat yang telah puluhan tahun mengabdikan dirinya dalam kegiatan kepalangmerahan.

    Berawal dari Ajakan Teman

    Perjalanan Kak Noor bersama PMR dimulai pada tahun 1980, ketika ia duduk di SMP Negeri 72 Jakarta. Ia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler PMR atas ajakan seorang teman, Kak Zelni Azwar.

    Saat itu, pelatih PMR di antaranya adalah Kak Masrur Suropati, Kak Asep, dan Kak Surachmat.

    Bagi Kak Noor, bergabung dengan PMR bukan sekadar mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Dari sinilah perlahan tumbuh rasa percaya diri yang sebelumnya belum ia miliki.

    “Dulu saya sering merasa minder karena keterbatasan fisik. Tetapi setelah mengikuti PMR, justru saya mendapatkan kepercayaan diri yang luar biasa,” tutur Kak Noor.

    Saat kelas 1 SMP, ia mulai sering diajak oleh para seniornya, yaitu Herjon, Fredy, Welly, dan Zelni, untuk datang ke Markas PMI Kota Jakarta Pusat.

    Semakin sering datang ke markas PMI, semakin besar pula ketertarikannya terhadap kegiatan kepalangmerahan. Di sana ia bertemu banyak teman dari berbagai sekolah yang memiliki semangat dan ketertarikan yang sama.

    Berbagai pelatihan yang diselenggarakan PMI pun diikutinya. Pengalaman demi pengalaman tersebut menjadi bekal penting yang kemudian membentuk dirinya sebagai seorang relawan.

    Dari Anggota PMR Menjadi Pelatih

    Tahun 1983, Kak Noor memasuki SMA Negeri 24 Jakarta. Kecintaannya terhadap PMR tidak berhenti. Ia kembali bergabung dalam kegiatan PMR di sekolah tersebut.

    Pengalamannya selama mengikuti PMR di SMP membuat pembina dan para senior di SMA Negeri 24 memberikan kepercayaan kepadanya. Ia bahkan diminta membantu membina dan melatih anggota PMR yang baru bergabung.

    Kepercayaan tersebut terus tumbuh.

    Pada tahun 1984, Kak Noor mulai dipercaya menjadi pelatih di almamaternya, SMP Negeri 72, sekaligus membantu kegiatan PMR di sekolahnya.

    Sejak saat itu, dunia kepelatihan PMR menjadi bagian penting dalam hidupnya.

    Ia melatih PMR di SMP Negeri 72 hingga tahun 1994. Setelah lulus dari SMA Negeri 24 pada tahun 1986, ia kemudian aktif melatih di berbagai sekolah, antara lain:

    • SMP Negeri 72
    • SMP Negeri 60
    • SMP Negeri 71
    • SMP Negeri 70
    • SMP Negeri 65
    • SMP Negeri 59
    • SMP Negeri 94
    • SMP YP IPPI
    • SMP Al-Irsyad
    • SMK 34 PGRI

    Kegiatan tersebut dijalaninya hingga tahun 1997.

    Perjalanan sebagai pelatih juga tidak lepas dari bimbingan para senior. Salah satunya adalah Kak Edwar Bactiar, yang mengajaknya membantu kegiatan pembinaan di STM 6 atau yang kini dikenal sebagai SMK 34, pada tahun 1986.

    Terus Belajar dan Mengembangkan Diri

    Menjadi relawan dan pelatih bukan berarti berhenti belajar. Kak Noor terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya melalui berbagai pendidikan dan pelatihan.

    Beberapa di antaranya adalah:

    • 1991 – Mengikuti Diklat KSR PMI DKI Jakarta.
    • 1995 – Mengikuti Diklat Pelatih PMR tingkat DKI Jakarta.
    • 1995–1997 – Aktif di Sekretariat KSR PMI Jakarta Pusat.
    • 1997 – Mengikuti Diklat Pembinaan Kepemimpinan Pelatih PMR dan KSR tingkat DKI Jakarta.
    • 2008 – Menerima penghargaan dedikasi 20 tahun dalam pembinaan PMR Jakarta Pusat.
    • 2014 – Mengikuti Orientasi Kepalangmerahan DKI Jakarta.
    • 2015 – Mengikuti Diklat Pembina PMR Jakarta Pusat.
    • 2020 – Menjadi juri Jumbara PMR PMI Sumatera Selatan.
    • 2021 – Mengikuti Pelatihan Eksplorasi Hukum Humaniter Internasional yang diselenggarakan PMI Pusat dan ICRC.
    • 2022 – Mengikuti Pelatihan Diseminasi Kepalangmerahan PMI Pusat dan ICRC.
    • 2023 – Mengikuti Seminar Pemantapan Nilai-Nilai dan Peraturan Organisasi PMI Pusat.
    • 2023 – Menerima penghargaan pengabdian 32 tahun sebagai relawan PMI DKI Jakarta.
    • 2025 – Menerima Volunteer Award “Dedication and Service Award” PMI Jakarta Pusat.

    Tetap Mengabdi kepada Generasi Muda

    Setelah sempat berhenti melatih di beberapa sekolah, semangat Kak Noor untuk membina generasi muda kembali berlanjut.

    Pada periode 2019–2023, ia aktif melatih PMR di beberapa sekolah dasar, antara lain SD Duripulo 04, SD Cideng 07, dan SD Cideng 04.

    Hingga saat ini, ia masih aktif melatih PMR di SD Cideng 13.

    Bagi Kak Noor, menjadi pelatih bukan sekadar mengajarkan teori dan keterampilan pertolongan pertama. Lebih dari itu, ia ingin menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian, kedisiplinan, keberanian, dan semangat membantu sesama kepada anak-anak yang dibinanya.

    Hadir dalam Berbagai Penugasan Kemanusiaan

    Pengabdian Kak Noor sebagai relawan PMI juga diwujudkan melalui berbagai penugasan kemanusiaan.

    Ia pernah terlibat dalam penugasan PMI dalam berbagai situasi bencana, di antaranya gempa bumi Yogyakarta, erupsi Gunung Merapi, tsunami Selat Sunda di Banten, dan berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya.

    Puluhan tahun perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berbuat sesuatu yang berarti.

    Pesan untuk Generasi Muda

    Perjalanan panjang Kak Noor memberikan sebuah pelajaran sederhana namun sangat berarti: jangan menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti melangkah.

    Justru dengan keterbatasan yang dimiliki, seseorang dapat menemukan kekuatan, keberanian, dan kepercayaan diri untuk terus berkembang.

    Di akhir percakapan, Kak Noor menyampaikan sebuah kalimat yang sederhana tetapi penuh makna:

    “Membantu sesama adalah kewajiban kita.”

    Semoga kisah perjalanan Kak Noor ini dapat menjadi inspirasi bagi para adik asuhnya dan generasi muda untuk terus belajar, berani berkarya, serta tidak mudah menyerah dengan keadaan.

    Karena pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita capai untuk diri sendiri, tetapi juga tentang seberapa banyak manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain.

    (ADS/74357089)

  • Aku Percaya Kamu Bisa; Kenangan Bersama Kak Salim Cholidi

    Aku Percaya Kamu Bisa; Kenangan Bersama Kak Salim Cholidi

    Oleh : H. Asep Djuanda

    Tanggal 2 Agustus 1989.

    Kami berenam berangkat menuju Baturaja, Palembang. Ada Kak Salim, Kak Irwan Hutomo, Kak Dadang Bustanu, Kak Wan Chaidir, Kak Oghe, dan aku, Komarudin Rusdi. Orang-orang biasa memanggilku Komeng.

    Keberangkatan kami ke Baturaja bermula dari Kak Wan Chaidir. Beliau bersaudara dengan Dandim Baturaja OKU saat itu.

    “De, coba kamu kembangkan kegiatan PMR di sini. Kamu coba dulu di Baturaja,” ujar Pak Dandim.

    “Siap, Komandan,” jawab Kak Wan Chaidir.

    Obrolan itu berlanjut di warung kopi Kang Ribut. Tanpa disangka, ajakan Pak Dandim mendapat sambutan hangat dari para senior.

    “Oke, kita atur waktunya. Insya Allah kita berangkat hari Rabu, tanggal dua Agustus. Kita naik kapal feri dari Merak,” ujar Kak Salim.

    Kak Salim memang begitu. Beliau orang yang paling getol jika menyangkut kegiatan. Penuh gagasan. Dari tangannya lahir Gladian pertama yang menjadi cikal bakal lomba P3K antar PMR se-sekolah, yang kini kita kenal sebagai Inter Arma Caritas. Satu-satunya yang ada di Jakarta Pusat waktu itu.

    Setibanya di Pelabuhan Bakauheni, kami dijemput utusan Pak Dandim dengan mobil Kijang menuju Kodim Baturaja. Markas PMI OKU, Baturaja masih menempati salah satu ruangan di RSU Baturaja tidak jauh dari Markas Kodim.

    Sambutan mereka luar biasa. Kami disiapkan penginapan di Mess Kodim Baturaja.

    Setelah berdiskusi dengan pengurus PMI Baturaja, keesokan harinya kami langsung tancap gas. Kami merencanakan diklat PMR dengan mengundang masing-masing 10 orang perwakilan siswa dari 21 sekolah-sekolah yang ada di Baturaja tingkat SMP dan SMA sederajat. Itulah diklat pertama kami untuk membentuk kader-kader kemanusiaan dari kalangan pelajar di Baturaja.

    Perjalanan tidak mudah. Kami berenam tidak semuanya bisa bertahan sampai akhir. Masing-masing punya urusan yang harus diselesaikan.

    Tinggallah kami bertiga: Kak Salim, Kak Oghe, dan aku. Alhamdulillah, dengan izin Allah, diklat itu selesai.

    Seiring waktu, Kak Salim sebagai motivator dan mentor kami harus kembali ke Jakarta. Sebelum berpisah, beliau berpesan :

    “Meng, jaga anak-anak kita. Jangan kamu tinggalkan mereka. Tidak mudah mencari orang yang mau mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Mereka adalah kader-kader kemanusiaan di PMI. Saya percaya kamu dan Oghe… bisa.”

    Untuk itulah kami berdua bertahan hingga bertahun tahun lamanya karena pesan itu yang membuat kami harus memegang amanahnya. Kalimat itu masih terngiang sampai hari ini.

    Tak lama setelah itu, aku mendengar kabar duka. Kak Salim mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sekujur badanku lemas mendengarnya.

    Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

    Tak banyak kata yang bisa kuucapkan, selain doa untuk almarhum.

    Selamat jalan, kakakku. Semoga apa yang kita lakukan selama ini untuk kemanusiaan menjadi wasilah kebaikan yang bernilai pahala di sisi-Nya. Aamiin.

    (Diceritakan oleh Komarudin Rusdi, pelaku sejarah berdirinya PMR Baturaja).


  • Buat Apa Kita Ber Palang Merah?

    Buat Apa Kita Ber Palang Merah?

    Oleh: Kang Asep Djuanda

    “Ngapain sih jadi relawan? Capek, gak digaji, kena hujan, kena lumpur.”
    Pertanyaan itu wajar. Tapi jawabannya ada di langit, dan dibuktikan di lapangan.

    Palang Merah bukan cuma organisasi. Ia cerminan iman yang jalan.

    1. Menolong Orang: Bukti Iman yang Hidup

    Islam itu agama yang turun ke jalan. Bukan cuma di masjid. Islam harus membumi. Peka terhadap permasalahan lingkungan.

    Allah perintahkan: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa” – QS. Al-Maidah: 2
    Gak pakai syarat. Gak pakai “asal seiman”. Yang butuh tolong, ya tolong.

    Nabi mencontohkan. Beliau menyuapi pengemis Yahudi buta tiap hari. Setelah wafat, Abu Bakar yang nerusin. Pas ditanya “kamu siapa?”, dijawab: “Aku pelayanmu.”
    Itu Islam. Nolong dulu, dakwah bil hal dari pada cuma dakwah bol lisan.

    Palang Merah lahir dari semangat yang sama. “Barangsiapa menyelamatkan satu jiwa…” – QS. Al-Maidah: 32

    Di medan bencana, relawan PMI gendong lansia, PMI kasih infus, dokter relawan begadang. Gak tanya KTP. Gak tanya agamanya apa. Karena yang diselamatkan adalah “jiwa”.

    Nabi bilang: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat” – HR. Ahmad
    Nah, rompi Palang Merah itu seragamnya orang-orang yang mau jadi “paling bermanfaat”.

    2. Menjaga Persatuan: Mengikat Luka Menjadi Satu

    Bencana itu adil. Gempa gak milih rumah ustaz atau rumah pendeta. Banjir gak milih kampung NU atau Muhammadiyah.

    Di posko, kita lihat, yang masak ibu-ibu majelis taklim. Yang angkut beras pemuda gereja. Yang jadi dokter relawan agamanya beda-beda. Tapi satu tenda. Satu dapur. Satu tujuan: selamatkan manusia.

    Itulah fungsi Palang Merah: Menjadi jembatan.
    Netral. Tidak memihak. Datang untuk semua.

    Islam juga ngajarin itu. Nabi bikin Piagam Madinah. Muslim, Yahudi, Nasrani hidup satu kota, saling jaga.
    “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal” – QS. Al-Hujurat: 13

    Saat kita ber Palang Merah, kita latihan jadi orang yang bisa merangkul.
    Bukan yang memecah. Bukan yang “kita vs mereka”.
    Karena musuh kita bukan manusia. Musuh kita: lapar, luka, dan putus asa.

    3. Melatih Diri Jadi Khalifah: Tugas di Bumi

    Allah bilang kita ini khalifah: “Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah” – QS. Al-Baqarah: 30
    Tugas khalifah 3: Menjaga, Memakmurkan, Menyayangi.

    Gimana latihannya? Di lapangan.

    • Menjaga = jadi tim penolong PMI, evakuasi korban
    • Memakmurkan = bangun dapur umum, distribusi air bersih
    • Menyayangi = usap kepala anak yatim, temenin lansia yang trauma

    Florence Nightingale melatih dirinya dengan lampu di tengah malam.
    Henry Dunant melatih dirinya dengan bendera putih di tengah perang.
    Kita melatih diri dengan rompi dan Bismillah.

    Di setiap tetes keringat relawan, ada pelajaran: sabar, ikhlas, tawadhu.
    Di setiap orang yang kita tolong, ada cermin: “Itu bisa jadi aku”.

    Nabi bilang: “Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya” – HR. Muslim
    Jadi pas kita nolong orang, sebenarnya kita sedang ditolong Allah juga.

    Jadi, Buat Apa Kita Ber Palang Merah?

    Buat 3 hal:

    1. Bukti iman – bahwa Islam itu rahmat, bukan omongan
    2. Bukti persatuan – bahwa kemanusiaan lebih besar dari perbedaan
    3. Bukti khalifah – bahwa kita serius menjaga bumi

    Karena nanti di akhirat Allah gak nanya “Spanduk pengajianmu sebesar apa?”
    Tapi Allah nanya: “Ketika dia lapar, kamu kasih makan? Ketika dia sakit, kamu jenguk?” – HR. Muslim

    Jadi jawabannya:
    Kita ber Palang Merah, supaya iman kita gak cuma di sajadah. Tapi juga di tangan, kaki, dan keringat yang menolong manusia.

    “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” – HR. Bukhari


  • Lambang Palang Merah di Dadaku

    Lambang Palang Merah di Dadaku

    Oleh: Kang Asep DJuanda

    Lambang Palang Merah bukan sekadar gambar palang berwarna merah di atas latar putih. Bagi saya, ia adalah pengingat tentang kemanusiaan yang tidak boleh padam, bahkan di tengah dentuman perang. Setiap kali melihatnya di dada seorang relawan, saya merasa sedang melihat janji: bahwa nyawa manusia tetap berharga.

    Semuanya bermula dari seorang pengusaha Swiss bernama Henry Dunant. Tahun 1859 ia pergi ke Perancis untuk menemui Napoleon Banaparte untuk urusan bisnis, tetapi justru terseret ke dalam tragedi besar. Di Desa Solferino Italia Utara, ia menyaksikan pertempuran antara pasukan Prancis dan Sardinia melawan Kekaisaran Austria. Ribuan tentara terkapar, sebagian besar tidak mendapat pertolongan.

    Pemandangan itu menghantui Dunant. Dengan dana dan tenaga sendiri, ia mengorganisir warga sipil untuk menolong korban dari kedua belah pihak, tanpa membedakan warna kulit, ras, golongan dan pandangan politik. Dari pengalaman pahit itu lahirlah buku A Memory of Solferino pada 1862. Buku itu bukan laporan militer, melainkan jeritan nurani tentang perlunya belas kasih di medan perang.

    Dalam bukunya, Dunant mengajukan dua ide besar. Pertama, membentuk perkumpulan sukarelawan di setiap negara yang siap menolong korban perang. Kedua, membuat perjanjian internasional untuk melindungi tenaga medis dan orang yang terluka. Ide ini sederhana, tetapi revolusioner untuk zamannya.

    Gagasan Dunant tidak berjalan sendiri. Ia didukung oleh empat tokoh penting di Jenewa. Ada Gustave Moynier, pengacara cerdas yang menjadi motor administrasi dan kemudian memimpin Komite selama puluhan tahun. Ada Jenderal Guillaume-Henri Dufour, sosok militer terhormat yang memberi wibawa pada komite baru itu.

    Dua dokter juga ikut menguatkan: Dr. Louis Appia yang berpengalaman sebagai ahli bedah lapangan, dan Dr. Théodore Maunoir dari komisi kesehatan Jenewa. Pertemuan mereka pada 1863 melahirkan “Komite Lima” yang kemudian menjadi Komite Internasional Palang Merah, ICRC.

    Tahun 1864, dunia merespons. Empat belas negara berkumpul dan menandatangani Konvensi Jenewa I. Isinya jelas: rumah sakit lapangan, ambulans, dan tenaga medis harus dilindungi dan dihormati dalam situasi perang. Untuk pertama kalinya hukum internasional secara khusus berbicara tentang kemanusiaan.

    Lalu bagaimana dengan lambangnya? Diputuskanlah penggunaan tanda berupa Palang merah di atas dasar putih. Ini adalah kebalikan warna bendera Swiss, negara asal Dunant dan tempat lahirnya konvensi. Pemilihan ini bukan kebetulan. Ini adalah bentuk penghormatan kepada Swiss sebagai tuan rumah, dan kepada Dunant sebagai penggagas.

    Sejak saat itu, lambang Palang Merah mendapat perlindungan hukum. Siapa pun yang memakainya harus benar-benar bertugas menolong. Ia tidak boleh digunakan untuk tujuan militer atau komersial. Karena itu, ketika kita melihat lambang ini di dada, di tenda, atau di kendaraan, artinya di tempat itu ada orang yang sedang bekerja menyelamatkan nyawa, bukan mengambilnya.

    Bagi saya pribadi, “Palang Merah di dadaku” adalah panggilan. Ia mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal kawan atau lawan. Ia mengingatkan bahwa keberanian terbesar bukan saat mengangkat senjata, melainkan saat berlari ke arah bahaya untuk menolong.

    Hari ini, prinsip yang ditanam Dunant di Solferino masih hidup. Relawan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ada di bencana alam, konflik, wabah, dan krisis pengungsi. Lambangnya mungkin kecil, tetapi maknanya besar: netral, tidak memihak, dan berpihak hanya pada penderitaan manusia.

    Karena itu, ketika saya mengenakan atribut Palang Merah, saya tidak hanya memakai kain. Saya memikul sejarah, hukum, dan tanggung jawab moral. Saya membawa warisan Solferino ke masa kini. Dan selama masih ada orang yang terluka, lambang itu harus terus dijaga kehormatannya.

  • 81 Tahun Palang Merah Indonesia

    81 Tahun Palang Merah Indonesia

    Oleh : Kang Asep Djuanda

    Awalnya saya mengenal PMI saat masih duduk di bangku SMP kelas 1 tahun 1972. Waktu itu PMI baru berusia 27 tahun. Kalau dianalogikan ke usia manusia, ia sedang beranjak dewasa, sedang mencari jati dirinya. Usia saya sendiri saat itu baru 15 tahun. Di ekstrakurikuler PMR lah saya mulai banyak mengenal PMI.

    Mengenal Sejarah PMI

    Berdirinya PMI melalui proses panjang, yang terbagi dalam dua masa berbeda: masa kolonial dan masa paska-kemerdekaan.

    1. Masa Kolonial

    Pada 21 Oktober 1873, Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan organisasi Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indië (NERKAI). Organisasi ini kemudian dibubarkan pada masa pendudukan Jepang.

    Semangat untuk mendirikan palang merah nasional tidak padam. Antara tahun 1932 hingga 1940, semangat itu terus dilanjutkan oleh tokoh-tokoh terpelajar Indonesia, dipelopori oleh dr. R.C.L. Senduk dan dr. Bahder Djohan.

    Pada tahun 1940, rancangan pendirian PMI dibawa ke dalam sidang Konferensi NERKAI, namun ditolak mentah-mentah oleh pihak kolonial. Upaya serupa juga sempat dilakukan pada masa pendudukan Jepang, tetapi kembali ditolak.

    1. Masa Paska-Kemerdekaan

    Tanggal 3 September 1945, atau hanya 17 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Soekarno memerintahkan Menteri Kesehatan saat itu, dr. Buntaran Martoatmodjo, untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional.

    Pada 5 September 1945, dr. Buntaran membentuk “Panitia Lima” yang diketuai oleh dr. R. Mochtar, dengan anggota dr. Bahder Djohan, dr. Djuhana, dr. Marzuki, dan dr. Sitanala.

    Panitia Lima berhasil membentuk Palang Merah Indonesia secara resmi pada 17 September 1945. Pengurus Besar PMI pun dibentuk dengan ketua pertama Drs. Mohammad Hatta. Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari PMI.

    Pada 16 Januari 1950, Pemerintah Belanda melalui NERKAI membubarkan diri dan menyerahkan seluruh asetnya kepada PMI, sesuai aturan internasional bahwa hanya boleh ada satu perhimpunan nasional di setiap negara. Keberadaan PMI kemudian dikuatkan secara resmi melalui Keppres No. 25 Tahun 1950 dan Keppres No. 246 Tahun 1963. Kini keberadaan PMI semakin jelas dengan dikeluarkannya UU Nomor 1 Tahun 2018 yang teknisnya dijelaskan dalam PP Nomor 7 Tahun 2019.

    Tugas Awal PMI

    Tugas utama PMI saat pertama kali berdiri berfokus penuh pada situasi perang kemerdekaan. Indonesia baru saja merdeka, PMI langsung diterjunkan ke medan konflik untuk misi kemanusiaan darurat, seperti,

    • Membantu korban perang revolusi dengan memberikan pertolongan pertama, mengevakuasi, serta merawat pejuang dan warga sipil.
    • Memulangkan tawanan perang, baik tentara Sekutu maupun Jepang yang masih tertinggal di Indonesia.
    • Membantu pemerintah menunjukkan kedaulatan, sebagai bukti kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah negara berdaulat yang memiliki lembaga kemanusiaan nasional yang sah.
    • Menyediakan pelayanan kesehatan darurat dengan membangun pos-pos kesehatan dan dapur umum di sekitar medan pertempuran.

    Semua tugas itu dijalankan dengan berpegang teguh pada 7 Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional: Kemanusiaan, Kesamaan, Kenetralan, Kemandirian, Kesukarelaan, Kesatuan, dan Kesemestaan.

    PMI Hari Ini, di Usia 81 Tahun

    Kini, di usia yang ke-81 tahun, tugas PMI jauh lebih meluas. Bukan hanya di medan perang, tapi hadir di setiap bencana alam, krisis kesehatan, hingga pelayanan donor darah yang setiap hari menyelamatkan ribuan nyawa. Jutaan relawan dari Sabang sampai Merauke adalah bukti bahwa semangat Panitia Lima itu tidak pernah padam.

    Dulu ketika saya mengenal PMI di usia 27 tahun, ia adalah organisasi muda yang sedang mencari jati diri. Kini di usianya yang ke-81, PMI telah menjadi organisasi yang matang, kokoh, dan terbukti selalu hadir di setiap duka bangsa.

    Jika dulu saya belajar tentang kemanusiaan dari PMR, kini saya melihat kemanusiaan itu sendiri telah tumbuh dan mengabdi bersama PMI.

    Dirgahayu Palang Merah Indonesia ke-81. Teruslah menebar kebaikan.

  • Ketika Dunia Diterangi Dua Lentera; Kisah Florence Nightingale & Henry Dunant

    Ketika Dunia Diterangi Dua Lentera; Kisah Florence Nightingale & Henry Dunant

    Oleh: Kang Ajun

    Ada masa ketika dunia lupa caranya berbelas kasih.
    Rumah sakit berbau darah dan kematian. Medan perang penuh jeritan yang tak dijawab.
    Lalu… Tuhan menurunkan dua lentera.

    Lentera Pertama: Wanita dengan Cahaya di Tangan

    Di sebuah rumah besar di Derbyshire, Inggris, lahir seorang gadis yang tidak suka pesta. Namanya Florence.
    Rumahnya mewah, pelayannya banyak, gaunnya indah. Tapi tiap malam Florence gelisah. Ia mendengar suara dari luar tembok: suara orang sakit, suara ibu yang menangis.

    “Untuk apa aku hidup mewah kalau di luar sana orang menderita?” begitu pikirnya.

    Tahun 1854, surat datang dari medan perang Krimea. “Tolong. Tentara kami mati bukan karena peluru. Mereka mati karena kotor.”
    Florence tidak berpikir dua kali. Ia membawa koper, bukan berisi gaun, tapi berisi perban, sabun, dan buku catatan.

    Di rumah sakit Scutari, neraka terbuka. Lantai licin darah. Bau busuk. Dokter berkata: “Ini takdir perang, Nona.”
    Florence menjawab: “Bukan. Ini takdir kelalaian kita.”

    Ia menyalakan lampu.
    Malam pertama, malam kedua, malam ke seratus… ia berjalan. Cahaya kecilnya menyentuh dahi yang demam, tangan yang dingin, bibir yang berbisik “air…”.
    Tentara Rusia, Turki, Inggris, semua sama di matanya.

    Lama-lama para prajurit menunggu. “Jam 10 malam, Bidadari akan lewat.”
    Dari tangannya lahir sekolah perawat. Dari catatannya lahir ilmu statistik. Dari hatinya lahir keyakinan: Merawat adalah seni tertinggi dari cinta.

    Lentera Kedua: Pria dengan Bendera di Dada

    Di Jenewa, ada pemuda bernama Henry. Ia bukan tentara. Ia pedagang. Tapi hatinya tidak bisa dagang kalau ada orang lapar di jalan.

    Tahun 1859 kakinya membawanya ke Solferino, Italia. Ia mencari kaisar untuk urusan bisnis. Yang ia temukan justru neraka.
    40.000 manusia tergeletak di sawah. Sebagian masih hidup, sebagian sudah jadi tanah. Tidak ada yang menolong karena “mereka musuh”.

    Henry berlutut. Ia mencium bau kematian. Lalu ia berdiri dan berteriak sekuat tenaga ke desa: “Keluar! Bantu mereka! Lupakan siapa mereka! Mereka manusia!”

    Tiga hari ia tidak tidur. Ia memberi minum dengan cangkirnya sendiri. Ia mengikat luka dengan bajunya sendiri.

    Malam itu ia menulis di buku kecilnya: “Andai ada orang yang siap sebelum perang datang. Andai ada tanda yang membuat tentara tidak menembak penolong.”

    Dari buku kecil itu lahir ide besar. Tahun 1863 lahir Palang Merah. Tahun 1864 lahir hukum yang berkata: “Di perang sekalipun, kemanusiaan tidak boleh mati.”
    Dunia memberinya Nobel. Tapi ia memilih hidup sederhana di kamar kecil, karena katanya: “Uang tidak bisa membeli ketenangan.”

    Bab Terakhir: Saat Dua Cahaya Bertemu di Langit

    1991 Tahun itu langit berduka dua kali.
    Agustus, lampu di London padam. Florence pergi di usia 90 tahun.
    Oktober, bendera di Swiss diturunkan setengah tiang. Henry menyusul di usia 82 tahun.

    Mereka tidak pernah jabat tangan. Tidak pernah minum teh bareng.
    Tapi mereka bertemu di satu tempat: di hati setiap perawat yang lembur, di dada setiap relawan yang masuk ke zona bencana.

    Florence mengajari kita memegang lampu.
    Henry mengajari kita mengangkat bendera.

    Dan kita-kita yang hidup sekarang, dititipi tugas untuk terus menyalakan keduanya. “Mungkin kita tidak bisa menghentikan semua perang. Tapi kita bisa memastikan… tidak ada seorang pun yang mati sendirian dan dilupakan.”

    Karena di akhir zaman, yang ditanya Tuhan bukan “kamu menang apa?”
    Tapi “kamu menolong siapa?”.


  • Aku Bangga Jadi PMR; Bulan Dana PMI Pakai Map List

    Aku Bangga Jadi PMR; Bulan Dana PMI Pakai Map List

    Hari Sabtu pagi di sekolahku baunya beda. Bukan bau gorengan kantin, tapi bau minyak kayu putih, perban, plester, dan sedikit panik.

    Itu hari pertama pelatihan P3K bareng kakak-kakak senior PMR.

    “Kalian besok bisa jadi first aider,” kata Kak Zuli sambil menunjukkan bidai dari papan tipis bekas. “Sekarang, praktik balut bidai!”

    Temanku, Dika, langsung jadi korban. Tangannya dibalut rapi pakai perban, terus dikasih bidai dari papan tipis, lalu disuruh jalan kayak robot. Kami ketawa sampai bidainya copot dua kali.

    Materi selanjutnya lebih serius: luka robek, luka bakar, sampai pertolongan orang pingsan. Kak Zuli mempraktikkan cara memiringkan kepala, cek napas, dan melonggarkan baju. “Kalau ada yang pingsan jangan dikocok, ya. Bukan karpet,” katanya. Satu sekolah ketawa, tapi kami hafal.

    Latihan selesai, kami pikir bubar. Ternyata belum.

    Kak Zuli mengeluarkan setumpuk map putih PMI. “Nah, ini misi kedua. Kita ganti kaleng kencleng dengan map donasi. Lebih sopan, lebih rapi.”

    Tiap anggota PMR dapat satu map. Isinya surat tugas, foto kegiatan PMI, dan kertas daftar derma. Tugas kami: keliling.

    Awalnya aku malu setengah mati. Bayangin: anak kelas 8 bawa map, ngetok pintu rumah orang, terus bilang, “Permisi, donasi untuk PMI?” Rasanya kayak sales.

    Hari pertama aku memberanikan diri ke warung Bu Yanti. “Bu, donasi buat PMI, ya, Bu…”

    Bu Yanti malah ngasih aku es teh gratis. “Pinter, Nak. Nih, buat semangat.”

    Tapi nggak semua semanis itu. Pas lewat depan sekolah, ada gerombolan teman yang bukan anggota PMR. Salah satunya teriak, “Woi, ngapain jadi PMR? Cuma disuruh minta-minta doang!”

    Aku diem. Di dalam hati aku mikir, “Iya juga, ya…”

    Panas, malu, capek, terus ditolak orang. Emang kerjanya minta-minta?

    Tapi malamnya aku nonton berita. Ada banjir di daerah sebelah. Relawan PMI datang bawa perahu karet, obat-obatan, dan tenda. Di dadanya ada logo yang sama kayak di mapku.

    Terus aku inget pas latihan tadi. Kalau ada yang pingsan di jalan, aku udah tahu harus ngapain. Kalau ada yang kena luka, aku bisa balut. Kalau ada yang butuh bantuan, ada PMI yang bergerak, dan aku bagian kecil dari itu.

    Tiba-tiba rasa maluku menciut. Predikat first aider itu kedengarannya keren juga.

    Tantangannya banyak sih. Ditolak, kehujanan, map sobek ketiup angin, sampai harus jelasin ke bapak-bapak toko kalau “ini bukan penipuan, Pak, beneran PMI”. Tapi tiap kali pulang bawa amplop isi donasi, rasanya kayak menang lomba.

    Sekarang aku masih terus ikut latihan tiap minggu. Niatnya mau jadi anggota PMR Inti. Katanya kalau udah inti, bisa ikut posko, bisa ikut aksi beneran, bukan cuma simulasi pakai bidai papan tipis.

    Orang boleh bilang kami cuma “minta-minta”. Biarin.

    Karena aku tahu, di balik map putih PMI ini ada orang-orang yang tertolong.

    Dan iya,

    Aku bangga jadi PMR.

    Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

  • PMR Bikin Kita Kreatif dan Peduli

    PMR Bikin Kita Kreatif dan Peduli

    Oleh: Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

    Aku masih ingat betul sore pertama kali masuk ruang PMR. Baunya kaporit bercampur plester. Di meja ada manekin, perban, dan bidai kayu.

    “Kamu berani nggak balut luka?” tanya kakak pembina sambil menyodorkan kain kasa.

    Tanganku gemetar. Tapi sejak hari itu, aku belajar banyak. Balut bidai, rawat luka robek, sampai simulasi pertolongan untuk luka tembak. Rasanya berat, tapi justru dari situ aku jadi ngerti: peduli itu harus siap kotor-kotoran.

    PMR nggak cuma di dalam kelas. Ada giat sosial ke kampung, donor darah keliling, sampai jaga pos saat banjir. Tiap pulang kegiatan, badan capek tapi hati anget. Karena kita tahu, ilmu yang dilatih hari ini bisa kepakai besok buat nolong orang beneran.

    Di sela latihan, kami jadi banyak teman. Anak SMP, SMA, dari sekolah beda-beda duduk satu lingkaran. Obrolan kami nggak pernah jauh dari “besok kita bikin apa ya biar PMR makin rame?”

    Dari obrolan itulah muncul ide gila: gimana kalau kita bikin lomba P3K sendiri?
    Awalnya cuma iseng. Tapi lama-lama serius. Kami rembukan, patungan ide, sampai akhirnya lahirlah sebuah gagasan. Kami namai Gladian.

    Desember 1979. Hari H tiba. 214 peserta datang dari sekolah-sekolah yang sudah punya PMR. Mereka datang bawa semangat, bukan bawa uang. Panitia minta kontribusi koran bekas dan botol. Itu yang kami jual buat beli plester dan sewa lapangan.

    Ada lomba hiking, cross country, musik dapur, dan tentu saja lomba P3K. Tapi yang paling aku ingat malam api unggun. Di tengah gelap, kami nyanyi, main drama, baca puisi. Di situ aku sadar, PMR ngajarin kami menolong, sekaligus ngajarin kami berkarya.

    Gladian kemudian tumbuh. Namanya berubah jadi Inter Arma Caritas — “di tengah pertempuran terdapat kasih sayang”. Kalimat itu terus kami pegang. Kegiatannya bergilir sampai tahun 1991.

    Tahun 2000, PMI DKI dan Nasional memberi nama baru: Jumpa Bakti Gembira. Sampai tahun 2026 ini, PMI Kota Jakarta Pusat sudah 12 kali menggelarnya.

    Angkanya bikin merinding kalau dihitung: 11.107 anggota PMR sudah pernah meramaikan kegiatan itu sejak pertama kali 1979. Dari koran bekas dan botol, jadi gerakan sebesar ini.

    Sekarang kalau ada orang tanya, “PMR ngajarin apa sih?”

    Aku jawab singkat aja: PMR bikin kita kreatif buat bikin kegiatan, dan bikin kita peduli buat turun tangan.

    Karena di tengah luka, di tengah lelah, di tengah pertempuran hidup… selalu ada ruang untuk kasih sayang (ADS-74357089)

  • Pengalaman yang Tak Terlupakan

    Pengalaman yang Tak Terlupakan

    Dulu waktu aku jadi anggota PMR, rasanya hidup jadi lebih sibuk tapi juga lebih hidup.

    Malam muda mudi peringatan HUT Jakarta tahun 74, 75, 76 itu paling berkesan. Aku ditugaskan jaga layanan kesehatan bareng teman-teman PMR dari sekolah lain. Lapangan penuh orang, musiknya kencang, tapi kami justru sibuk keliling bawa kotak P3K.

    Ada yang pingsan karena desakan, ada yg kepalanya luka kena batu, ada yang kakinya lecet, ada juga yang cuma butuh air putih dan tempat duduk. Capek iya, tapi bangga juga karena ngerasa berguna.

    Dari situ aku ketagihan. Pernah juga aku ikut Jumbara di Bali dan Semarang. Ketemu PMR dari daerah lain, tukar ilmu, tidur beralaskan tenda, makan bareng. Pokoknya asik deh.

    Terus lanjut ikut lomba P3K PMI se-DKI, bahkan sampai tingkat nasional. Deg-degan waktu simulasi, tapi seru karena semua serius mau nolong dengan benar.

    Beranjak dewasa, materi PMR-nya makin menantang. Salah satunya pelatihan pertolongan gigitan ular berbisa. Pelatih kami waktu itu orangnya cekatan dan berani.

    Untuk nunjukin cara penanganan darurat, beliau memperagakan langsung: menghisap luka bekas gigitan pakai mulutnya. Kami semua diam, merhatiin serius.

    Tapi beliau nggak sadar, di bibirnya lagi ada sariawan. Beberapa saat kemudian keadaannya berubah. Bisa ular itu masuk. Dan malam itu juga beliau nggak tertolong. Sedih banget…

    Ruangan yang tadinya ramai jadi hening. Kami yang masih remaja waktu itu kaget, sedih, dan takut.

    Sejak hari itu prinsipku berubah. Aku jadi jauh lebih hati-hati kalau nolong orang terluka. Mau lukanya kecil atau besar, aturannya harus pas. Sarung tangan, alat, prosedur, nggak ada yang boleh diskip.

    Dulu aku hafal banget P3K itu Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
    Tapi setelah kejadian itu, aku sering nyeletuk ke adik-adik PMR:
    “Ingat ya, kalau sembarangan, bisa jadi KP3. Kecelakaan Pada Pertolongan Pertama.”

    Kalimat itu kedengarannya lucu, tapi maksudnya serius. Karena nolong orang itu mulia, tapi harus pakai ilmu dan kehati-hatian. Nyawa orang lain, dan nyawa kita sendiri, sama berharganya.

    Bravo PMI Jakpus

  • Tawaran di Tengah Lapangan

    Tawaran di Tengah Lapangan

    Oleh: Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

    Kelas 8 SMP. Istirahat kedua.
    Aku lagi duduk di bangku beton pinggir lapangan, sambil ngabisin cilok 2 tusuk terakhir dan ngelap keringat pakai lengan baju.

    Tiba-tiba ada kakak kelas 9 lewat bawa tas PMR warna merah, lengannya ada ban lengan putih palang merah. Di belakangnya 3 anak bawa tandu lipat sama kotak P3K gede banget.

    “Eh kamu,” kakaknya nunjuk aku.
    Aku nunjuk diri sendiri? “Saya?”
    “Iya kamu. Mau gabung PMR nggak? Lagi butuh anggota baru nih. Yang berani, yang nggak penakut liat darah.”

    Dalam hati: Darah? Aku aja liat jarum suntik udah mau pingsan.

    Tapi pas liat mereka latihan simulasi pertolongan pertama, ada yang jadi “korban” pura-pura terkilir, ada yang sigap balut perban, ada yang teriak “barisan siap!” — entah kenapa kerasa keren.

    Hari itu aku pulang bawa selembar formulir pendaftaran.
    Warna merah. Ada logo palang merah di pojoknya.

    Minggu pertama latihan: disuruh hafalin 7 langkah cuci tangan, belajar bedain luka lecet sama luka sobek, dan yang paling bikin trauma… disuruh jadi korban pingsan di depan lapangan upacara 😭
    Temen-temen nonton. Ada yang ketawa. Ada yang beneran panik.

    Tapi lama-lama aku suka.
    Suka pas bisa ngebantu temen yang jatuh pas futsal. Suka pas bisa bikin tandu darurat + selimut lurik. Pas upacara 17-an kita ditugasi jaga pos kesehatan diruangan PMR sekolah, dan kebetulan ada adik kelas yang pusing karena kepanasan terjatuh dalam barisan upacara.

    Dari anak yang awalnya cuma “ditawari iseng” di pinggir lapangan,
    akhirnya aku jadi anak PMR yang tiap ada acara PMI dan sekolah pasti bawa kotak P3K kemana-mana.

    Sampe sekarang kalau liat palang merah, aku keinginan kalau
    keberanian tuh kadang datangnya bukan karena kita siap. Tapi karena ada orang yang duluan percaya kita bisa.

    Daahhhhh salam buat kamu.