PMR Bikin Kita Kreatif dan Peduli

Cerpen Asep Djuanda PMI Jakpus

Oleh: Kang Ajun
PMR Inti Angkatan 3/1974
NIA : 74357089

Aku masih ingat betul sore pertama kali masuk ruang PMR. Baunya kaporit bercampur plester. Di meja ada manekin, perban, dan bidai kayu.

“Kamu berani nggak balut luka?” tanya kakak pembina sambil menyodorkan kain kasa.

Tanganku gemetar. Tapi sejak hari itu, aku belajar banyak. Balut bidai, rawat luka robek, sampai simulasi pertolongan untuk luka tembak. Rasanya berat, tapi justru dari situ aku jadi ngerti: peduli itu harus siap kotor-kotoran.

PMR nggak cuma di dalam kelas. Ada giat sosial ke kampung, donor darah keliling, sampai jaga pos saat banjir. Tiap pulang kegiatan, badan capek tapi hati anget. Karena kita tahu, ilmu yang dilatih hari ini bisa kepakai besok buat nolong orang beneran.

Di sela latihan, kami jadi banyak teman. Anak SMP, SMA, dari sekolah beda-beda duduk satu lingkaran. Obrolan kami nggak pernah jauh dari “besok kita bikin apa ya biar PMR makin rame?”

Dari obrolan itulah muncul ide gila: gimana kalau kita bikin lomba P3K sendiri?
Awalnya cuma iseng. Tapi lama-lama serius. Kami rembukan, patungan ide, sampai akhirnya lahirlah sebuah gagasan. Kami namai Gladian.

Desember 1979. Hari H tiba. 214 peserta datang dari sekolah-sekolah yang sudah punya PMR. Mereka datang bawa semangat, bukan bawa uang. Panitia minta kontribusi koran bekas dan botol. Itu yang kami jual buat beli plester dan sewa lapangan.

Ada lomba hiking, cross country, musik dapur, dan tentu saja lomba P3K. Tapi yang paling aku ingat malam api unggun. Di tengah gelap, kami nyanyi, main drama, baca puisi. Di situ aku sadar, PMR ngajarin kami menolong, sekaligus ngajarin kami berkarya.

Gladian kemudian tumbuh. Namanya berubah jadi Inter Arma Caritas — “di tengah pertempuran terdapat kasih sayang”. Kalimat itu terus kami pegang. Kegiatannya bergilir sampai tahun 1991.

Tahun 2000, PMI DKI dan Nasional memberi nama baru: Jumpa Bakti Gembira. Sampai tahun 2026 ini, PMI Kota Jakarta Pusat sudah 12 kali menggelarnya.

Angkanya bikin merinding kalau dihitung: 11.107 anggota PMR sudah pernah meramaikan kegiatan itu sejak pertama kali 1979. Dari koran bekas dan botol, jadi gerakan sebesar ini.

Sekarang kalau ada orang tanya, “PMR ngajarin apa sih?”

Aku jawab singkat aja: PMR bikin kita kreatif buat bikin kegiatan, dan bikin kita peduli buat turun tangan.

Karena di tengah luka, di tengah lelah, di tengah pertempuran hidup… selalu ada ruang untuk kasih sayang (ADS-74357089)