Author: PMI Kota Jakarta Pusat

  • PMI Jakarta Pusat Tangani Warga Terdampak Kebakaran di Tanah Abang

    PMI Jakarta Pusat Tangani Warga Terdampak Kebakaran di Tanah Abang

    Jakarta – Kebakaran terjadi di Jalan Jati Bunder, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).

    Informasi mengenai kejadian tersebut diterima petugas PMI Kota Jakarta Pusat pada pukul 13.50 WIB.

    Setelah menerima laporan, petugas PMI Kota Jakarta Pusat segera menuju lokasi untuk memberikan pelayanan kepada warga yang terdampak kebakaran.

    Di lokasi, petugas PMI memberikan pertolongan pertama kepada sejumlah warga yang mengalami berbagai keluhan dan cedera, di antaranya luka robek serta iritasi pada mata akibat paparan asap.

    Petugas PMI melakukan penanganan awal terhadap warga yang membutuhkan bantuan medis serta memastikan kondisi mereka mendapatkan perhatian sesuai kebutuhan.

  • Kebakaran di Cempaka Mas, PMI Turunkan Tim ke Lokasi

    Kebakaran di Cempaka Mas, PMI Turunkan Tim ke Lokasi

    Jakarta Kebakaran terjadi di kawasan Cempaka Mas, Jakarta, pada Senin (10/8/2026) sekitar pukul 12.45 WIB. Tim Palang Merah Indonesia Kota Jakarta Pusat (PMI) turut bersiaga di lokasi untuk memberikan dukungan pelayanan kemanusiaan apabila dibutuhkan.

    Berdasarkan informasi awal di lapangan, titik awal kebakaran diketahui berasal dari area tumpukan sampah. Api kemudian membesar hingga memerlukan penanganan petugas di lokasi.

    Kebakaran diduga dipicu oleh puntung rokok yang mengenai material mudah terbakar di area tersebut. Namun, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak terkait.

    Tim PMI tetap bersiaga selama proses penanganan berlangsung guna mengantisipasi kebutuhan pertolongan pertama maupun layanan kemanusiaan lainnya.

    Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam membuang puntung rokok dan memastikan tidak terdapat sumber api yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di sekitar tumpukan sampah atau material yang mudah terbakar.

  • Semua Bisa Bantu Masyarakat; Refleksi Bulan Dana PMI Jakarta Tahun 1972

    Semua Bisa Bantu Masyarakat; Refleksi Bulan Dana PMI Jakarta Tahun 1972

    Kegiatan kemanusiaan tidak selalu lahir dari aksi-aksi besar. Sering kali, ia berawal dari langkah yang sangat sederhana: sebuah kaleng donasi di persimpangan jalan, tangan-tangan kecil yang dengan tulus mengulurkannya kepada para pengguna jalan, serta semangat para pelajar yang rela berdiri di bawah terik matahari demi membantu sesama.

    Bulan Dana Palang Merah Indonesia (PMI) merupakan salah satu contoh nyata bagaimana kepedulian masyarakat dapat dihimpun menjadi kekuatan besar untuk mendukung berbagai layanan kemanusiaan.

    Sejak pertama kali dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1972, Bulan Dana menjadi gerakan yang melibatkan banyak unsur masyarakat, termasuk para anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang menjadi ujung tombak penggalangan dana.

    Pada masa itu, metode penggalangan dana masih sangat sederhana. Para relawan membawa kaleng donasi dan mengedarkannya di setiap persimpangan jalan ketika lampu lalu lintas berwarna merah.

    Para pengguna kendaraan yang sedang berhenti menjadi bagian dari gerakan gotong royong tersebut melalui sumbangan sukarela.

    Berbeda dengan kondisi saat ini, kegiatan penggalangan dana di jalan raya pada masa itu masih diperbolehkan, sehingga interaksi antara relawan dan masyarakat berlangsung secara langsung. Cara sederhana tersebut justru mampu membangun kedekatan sekaligus menumbuhkan budaya berbagi di tengah masyarakat.

    Pelaksanaan Bulan Dana berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, mulai September hingga akhir November. Para anggota PMR dari berbagai sekolah di Jakarta bertugas secara bergantian di sejumlah titik yang telah ditentukan. Bagi kami, kegiatan ini bukanlah sebuah beban. Justru menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh makna.

    Setiap selesai bertugas, bentuk apresiasi yang kami terima sangat sederhana, seperti sepotong roti atau diantar pulang menggunakan ambulans PMI. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat semangat tetap terjaga. Kami merasa dihargai, sekaligus bangga karena dapat mengambil bagian dalam sebuah gerakan kemanusiaan.

    Ada pula pengalaman yang hingga kini masih membekas dalam ingatan. Setelah seluruh rangkaian Bulan Dana selesai, kami diajak mengikuti kegiatan rekreasi bersama anggota PMR dari berbagai sekolah di Jakarta ke Kota Bandung menggunakan kereta api.

    Selama di sana kami menginap di barak tentara dan mengikuti berbagai kegiatan kebersamaan. Perjalanan tersebut bukan sekadar rekreasi, tetapi menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, membangun solidaritas, dan menumbuhkan rasa bangga sebagai bagian dari keluarga besar PMI.

    Dana yang berhasil dihimpun melalui Bulan Dana tidak berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan. Seluruhnya kembali kepada masyarakat melalui berbagai layanan kemanusiaan, seperti penanggulangan bencana, pelayanan ambulans dan kesehatan, serta pembinaan generasi muda melalui kegiatan Palang Merah Remaja.

    Dengan kata lain, setiap rupiah yang dimasukkan masyarakat ke dalam kaleng donasi benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan yang nyata.

    Pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran yang sangat berharga. Kepedulian tidak ditentukan oleh besar kecilnya kemampuan seseorang, melainkan oleh kemauan untuk berbuat. Anak-anak sekolah dapat menyumbangkan tenaga dan waktunya sebagai relawan.

    Para pengguna jalan dapat berpartisipasi melalui donasi. Masyarakat dapat membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ketika setiap orang mengambil peran, sekecil apa pun kontribusinya, dampak yang dihasilkan akan menjadi sangat besar.

    Kini, cara menggalang dana mungkin telah berubah. Teknologi berkembang, metode semakin modern, dan berbagai aturan pun terus menyesuaikan zaman. Namun, nilai yang mendasarinya tetap sama: semangat gotong royong, kepedulian, dan keinginan untuk membantu sesama.

    Bulan Dana PMI Jakarta pada tahun 1972 menjadi pengingat bahwa gerakan kemanusiaan tidak selalu membutuhkan fasilitas yang mewah atau teknologi yang canggih.

    Berbekal sebuah kaleng donasi, semangat para relawan muda, dan kepercayaan masyarakat, ribuan aksi kemanusiaan dapat diwujudkan. Dari pengalaman itulah saya belajar bahwa membantu sesama bukanlah tentang seberapa besar yang kita miliki, melainkan seberapa besar kepedulian yang kita berikan.

    Karena pada akhirnya, semua bisa bantu masyarakat.

    Oleh: Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

  • Aku Bangga Jadi PMR; Bulan Dana PMI Pakai Map List

    Aku Bangga Jadi PMR; Bulan Dana PMI Pakai Map List

    Hari Sabtu pagi di sekolahku baunya beda. Bukan bau gorengan kantin, tapi bau minyak kayu putih, perban, plester, dan sedikit panik.

    Itu hari pertama pelatihan P3K bareng kakak-kakak senior PMR.

    “Kalian besok bisa jadi first aider,” kata Kak Zuli sambil menunjukkan bidai dari papan tipis bekas. “Sekarang, praktik balut bidai!”

    Temanku, Dika, langsung jadi korban. Tangannya dibalut rapi pakai perban, terus dikasih bidai dari papan tipis, lalu disuruh jalan kayak robot. Kami ketawa sampai bidainya copot dua kali.

    Materi selanjutnya lebih serius: luka robek, luka bakar, sampai pertolongan orang pingsan. Kak Zuli mempraktikkan cara memiringkan kepala, cek napas, dan melonggarkan baju. “Kalau ada yang pingsan jangan dikocok, ya. Bukan karpet,” katanya. Satu sekolah ketawa, tapi kami hafal.

    Latihan selesai, kami pikir bubar. Ternyata belum.

    Kak Zuli mengeluarkan setumpuk map putih PMI. “Nah, ini misi kedua. Kita ganti kaleng kencleng dengan map donasi. Lebih sopan, lebih rapi.”

    Tiap anggota PMR dapat satu map. Isinya surat tugas, foto kegiatan PMI, dan kertas daftar derma. Tugas kami: keliling.

    Awalnya aku malu setengah mati. Bayangin: anak kelas 8 bawa map, ngetok pintu rumah orang, terus bilang, “Permisi, donasi untuk PMI?” Rasanya kayak sales.

    Hari pertama aku memberanikan diri ke warung Bu Yanti. “Bu, donasi buat PMI, ya, Bu…”

    Bu Yanti malah ngasih aku es teh gratis. “Pinter, Nak. Nih, buat semangat.”

    Tapi nggak semua semanis itu. Pas lewat depan sekolah, ada gerombolan teman yang bukan anggota PMR. Salah satunya teriak, “Woi, ngapain jadi PMR? Cuma disuruh minta-minta doang!”

    Aku diem. Di dalam hati aku mikir, “Iya juga, ya…”

    Panas, malu, capek, terus ditolak orang. Emang kerjanya minta-minta?

    Tapi malamnya aku nonton berita. Ada banjir di daerah sebelah. Relawan PMI datang bawa perahu karet, obat-obatan, dan tenda. Di dadanya ada logo yang sama kayak di mapku.

    Terus aku inget pas latihan tadi. Kalau ada yang pingsan di jalan, aku udah tahu harus ngapain. Kalau ada yang kena luka, aku bisa balut. Kalau ada yang butuh bantuan, ada PMI yang bergerak, dan aku bagian kecil dari itu.

    Tiba-tiba rasa maluku menciut. Predikat first aider itu kedengarannya keren juga.

    Tantangannya banyak sih. Ditolak, kehujanan, map sobek ketiup angin, sampai harus jelasin ke bapak-bapak toko kalau “ini bukan penipuan, Pak, beneran PMI”. Tapi tiap kali pulang bawa amplop isi donasi, rasanya kayak menang lomba.

    Sekarang aku masih terus ikut latihan tiap minggu. Niatnya mau jadi anggota PMR Inti. Katanya kalau udah inti, bisa ikut posko, bisa ikut aksi beneran, bukan cuma simulasi pakai bidai papan tipis.

    Orang boleh bilang kami cuma “minta-minta”. Biarin.

    Karena aku tahu, di balik map putih PMI ini ada orang-orang yang tertolong.

    Dan iya,

    Aku bangga jadi PMR.

    Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

  • PMR Bikin Kita Kreatif dan Peduli

    PMR Bikin Kita Kreatif dan Peduli

    Oleh: Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

    Aku masih ingat betul sore pertama kali masuk ruang PMR. Baunya kaporit bercampur plester. Di meja ada manekin, perban, dan bidai kayu.

    “Kamu berani nggak balut luka?” tanya kakak pembina sambil menyodorkan kain kasa.

    Tanganku gemetar. Tapi sejak hari itu, aku belajar banyak. Balut bidai, rawat luka robek, sampai simulasi pertolongan untuk luka tembak. Rasanya berat, tapi justru dari situ aku jadi ngerti: peduli itu harus siap kotor-kotoran.

    PMR nggak cuma di dalam kelas. Ada giat sosial ke kampung, donor darah keliling, sampai jaga pos saat banjir. Tiap pulang kegiatan, badan capek tapi hati anget. Karena kita tahu, ilmu yang dilatih hari ini bisa kepakai besok buat nolong orang beneran.

    Di sela latihan, kami jadi banyak teman. Anak SMP, SMA, dari sekolah beda-beda duduk satu lingkaran. Obrolan kami nggak pernah jauh dari “besok kita bikin apa ya biar PMR makin rame?”

    Dari obrolan itulah muncul ide gila: gimana kalau kita bikin lomba P3K sendiri?
    Awalnya cuma iseng. Tapi lama-lama serius. Kami rembukan, patungan ide, sampai akhirnya lahirlah sebuah gagasan. Kami namai Gladian.

    Desember 1979. Hari H tiba. 214 peserta datang dari sekolah-sekolah yang sudah punya PMR. Mereka datang bawa semangat, bukan bawa uang. Panitia minta kontribusi koran bekas dan botol. Itu yang kami jual buat beli plester dan sewa lapangan.

    Ada lomba hiking, cross country, musik dapur, dan tentu saja lomba P3K. Tapi yang paling aku ingat malam api unggun. Di tengah gelap, kami nyanyi, main drama, baca puisi. Di situ aku sadar, PMR ngajarin kami menolong, sekaligus ngajarin kami berkarya.

    Gladian kemudian tumbuh. Namanya berubah jadi Inter Arma Caritas — “di tengah pertempuran terdapat kasih sayang”. Kalimat itu terus kami pegang. Kegiatannya bergilir sampai tahun 1991.

    Tahun 2000, PMI DKI dan Nasional memberi nama baru: Jumpa Bakti Gembira. Sampai tahun 2026 ini, PMI Kota Jakarta Pusat sudah 12 kali menggelarnya.

    Angkanya bikin merinding kalau dihitung: 11.107 anggota PMR sudah pernah meramaikan kegiatan itu sejak pertama kali 1979. Dari koran bekas dan botol, jadi gerakan sebesar ini.

    Sekarang kalau ada orang tanya, “PMR ngajarin apa sih?”

    Aku jawab singkat aja: PMR bikin kita kreatif buat bikin kegiatan, dan bikin kita peduli buat turun tangan.

    Karena di tengah luka, di tengah lelah, di tengah pertempuran hidup… selalu ada ruang untuk kasih sayang (ADS-74357089)

  • Pengalaman yang Tak Terlupakan

    Pengalaman yang Tak Terlupakan

    Dulu waktu aku jadi anggota PMR, rasanya hidup jadi lebih sibuk tapi juga lebih hidup.

    Malam muda mudi peringatan HUT Jakarta tahun 74, 75, 76 itu paling berkesan. Aku ditugaskan jaga layanan kesehatan bareng teman-teman PMR dari sekolah lain. Lapangan penuh orang, musiknya kencang, tapi kami justru sibuk keliling bawa kotak P3K.

    Ada yang pingsan karena desakan, ada yg kepalanya luka kena batu, ada yang kakinya lecet, ada juga yang cuma butuh air putih dan tempat duduk. Capek iya, tapi bangga juga karena ngerasa berguna.

    Dari situ aku ketagihan. Pernah juga aku ikut Jumbara di Bali dan Semarang. Ketemu PMR dari daerah lain, tukar ilmu, tidur beralaskan tenda, makan bareng. Pokoknya asik deh.

    Terus lanjut ikut lomba P3K PMI se-DKI, bahkan sampai tingkat nasional. Deg-degan waktu simulasi, tapi seru karena semua serius mau nolong dengan benar.

    Beranjak dewasa, materi PMR-nya makin menantang. Salah satunya pelatihan pertolongan gigitan ular berbisa. Pelatih kami waktu itu orangnya cekatan dan berani.

    Untuk nunjukin cara penanganan darurat, beliau memperagakan langsung: menghisap luka bekas gigitan pakai mulutnya. Kami semua diam, merhatiin serius.

    Tapi beliau nggak sadar, di bibirnya lagi ada sariawan. Beberapa saat kemudian keadaannya berubah. Bisa ular itu masuk. Dan malam itu juga beliau nggak tertolong. Sedih banget…

    Ruangan yang tadinya ramai jadi hening. Kami yang masih remaja waktu itu kaget, sedih, dan takut.

    Sejak hari itu prinsipku berubah. Aku jadi jauh lebih hati-hati kalau nolong orang terluka. Mau lukanya kecil atau besar, aturannya harus pas. Sarung tangan, alat, prosedur, nggak ada yang boleh diskip.

    Dulu aku hafal banget P3K itu Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
    Tapi setelah kejadian itu, aku sering nyeletuk ke adik-adik PMR:
    “Ingat ya, kalau sembarangan, bisa jadi KP3. Kecelakaan Pada Pertolongan Pertama.”

    Kalimat itu kedengarannya lucu, tapi maksudnya serius. Karena nolong orang itu mulia, tapi harus pakai ilmu dan kehati-hatian. Nyawa orang lain, dan nyawa kita sendiri, sama berharganya.

    Bravo PMI Jakpus

  • Tawaran di Tengah Lapangan

    Tawaran di Tengah Lapangan

    Oleh: Kang Ajun
    PMR Inti Angkatan 3/1974
    NIA : 74357089

    Kelas 8 SMP. Istirahat kedua.
    Aku lagi duduk di bangku beton pinggir lapangan, sambil ngabisin cilok 2 tusuk terakhir dan ngelap keringat pakai lengan baju.

    Tiba-tiba ada kakak kelas 9 lewat bawa tas PMR warna merah, lengannya ada ban lengan putih palang merah. Di belakangnya 3 anak bawa tandu lipat sama kotak P3K gede banget.

    “Eh kamu,” kakaknya nunjuk aku.
    Aku nunjuk diri sendiri? “Saya?”
    “Iya kamu. Mau gabung PMR nggak? Lagi butuh anggota baru nih. Yang berani, yang nggak penakut liat darah.”

    Dalam hati: Darah? Aku aja liat jarum suntik udah mau pingsan.

    Tapi pas liat mereka latihan simulasi pertolongan pertama, ada yang jadi “korban” pura-pura terkilir, ada yang sigap balut perban, ada yang teriak “barisan siap!” — entah kenapa kerasa keren.

    Hari itu aku pulang bawa selembar formulir pendaftaran.
    Warna merah. Ada logo palang merah di pojoknya.

    Minggu pertama latihan: disuruh hafalin 7 langkah cuci tangan, belajar bedain luka lecet sama luka sobek, dan yang paling bikin trauma… disuruh jadi korban pingsan di depan lapangan upacara 😭
    Temen-temen nonton. Ada yang ketawa. Ada yang beneran panik.

    Tapi lama-lama aku suka.
    Suka pas bisa ngebantu temen yang jatuh pas futsal. Suka pas bisa bikin tandu darurat + selimut lurik. Pas upacara 17-an kita ditugasi jaga pos kesehatan diruangan PMR sekolah, dan kebetulan ada adik kelas yang pusing karena kepanasan terjatuh dalam barisan upacara.

    Dari anak yang awalnya cuma “ditawari iseng” di pinggir lapangan,
    akhirnya aku jadi anak PMR yang tiap ada acara PMI dan sekolah pasti bawa kotak P3K kemana-mana.

    Sampe sekarang kalau liat palang merah, aku keinginan kalau
    keberanian tuh kadang datangnya bukan karena kita siap. Tapi karena ada orang yang duluan percaya kita bisa.

    Daahhhhh salam buat kamu.

  • PMI Kota Jakarta Pusat Dukung Demo Ekstrakurikuler PMR pada MPLS

    PMI Kota Jakarta Pusat Dukung Demo Ekstrakurikuler PMR pada MPLS

    Jakarta – (20/07/2026), PMI Kota Jakarta Pusat memberikan dukungan layanan ambulans dan tenaga kesehatan dalam kegiatan demonstrasi ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) yang diselenggarakan di sejumlah sekolah selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

    Kehadiran PMI bertujuan memperkenalkan kepada peserta didik baru mengenai peran PMR sebagai wadah pembinaan karakter, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta keterampilan pertolongan pertama.

    Dalam demonstrasi tersebut, para relawan dan anggota PMR menampilkan simulasi pertolongan pertama, penggunaan peralatan kesehatan, hingga pengenalan layanan ambulans PMI. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan memahami pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi keadaan darurat serta terdorong untuk bergabung menjadi anggota PMR di sekolahnya.

    Ketua PMI Kota Jakarta Pusat, H. Asep Djuanda Sunarya, mengatakan bahwa MPLS merupakan momentum yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada generasi muda.

    “PMR bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, tetapi wadah pembentukan karakter yang menumbuhkan jiwa kepemimpinan, kepedulian, dan semangat kemanusiaan. Kami berharap semakin banyak pelajar yang bergabung dengan PMR dan menjadi pelopor hidup sehat serta sahabat kemanusiaan di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” ujar H. Asep Djuanda Sunarya.

    Selain memberikan dukungan ambulans, PMI Kota Jakarta Pusat juga terus berkomitmen mendukung berbagai kegiatan pendidikan melalui edukasi kesehatan, kesiapsiagaan bencana, pertolongan pertama, serta pembinaan Palang Merah Remaja sebagai bagian dari upaya membangun generasi muda yang tangguh, peduli, dan siap membantu sesama.

    Melalui sinergi dengan pihak sekolah, PMI Kota Jakarta Pusat berharap pembinaan PMR dapat terus berkembang sehingga semakin banyak pelajar yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan semangat kerelawanan dalam mendukung aksi-aksi kemanusiaan di masa mendatang

  • PMI Jakpus Ikuti Apel Operasi Dampak Kekeringan Ekstrem El Nino 2026

    PMI Jakpus Ikuti Apel Operasi Dampak Kekeringan Ekstrem El Nino 2026

    Jakarta, – (30/06/2026) PMI Kota Jakarta Pusat turut mengikuti Apel Operasi Dampak Kekeringan Ekstrem Akibat El Nino 2026 yang diselenggarakan oleh PMI Pusat di Gudang Darurat PMI Pusat Jakarta.

    Apel tersebut menjadi bentuk kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi krisis air bersih akibat musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino.

    Dalam apel tersebut, Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, mengumumkan kesiapan 200 unit mobil tangki air yang akan dikerahkan untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

    “Kami menggerakkan 200 mobil tangki air untuk membantu masyarakat yang mengalami kekurangan air bersih akibat kekeringan,” kata dia.

    Pengerahan armada ini merupakan bagian dari strategi kesiapsiagaan bencana berbasis prakiraan guna memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.

    Sebagai tahap awal, distribusi bantuan akan diprioritaskan ke delapan provinsi yang diperkirakan mengalami dampak kekeringan paling berat, yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

    Seluruh proses penyaluran bantuan akan dilakukan melalui koordinasi bersama pemerintah daerah dan BPBD agar bantuan dapat diterima secara cepat dan tepat sasaran.

    Kepala Markas PMI Kota Jakarta Pusat, Gunadi Al Afadjari, menyampaikan bahwa PMI Kota Jakarta Pusat mendukung penuh langkah yang diambil PMI Pusat dalam mengantisipasi dampak kekeringan ekstrem.

    Menurutnya, kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga dimulai sejak adanya prediksi potensi bencana.

    “Apel kesiapsiagaan ini menjadi pengingat bagi seluruh jajaran PMI untuk selalu siap memberikan pelayanan kemanusiaan. PMI Kota Jakarta Pusat mendukung penuh operasi nasional ini dan siap mengerahkan sumber daya yang dimiliki apabila dibutuhkan ” ujar Gunadi Al Afadjari.

    PMI mencatat peningkatan kapasitas operasi dibandingkan penanganan kekeringan tahun 2023. Saat itu, sebanyak 126 mobil tangki berhasil mendistribusikan lebih dari 100 juta liter air bersih kepada masyarakat.

    Pada tahun 2026, jumlah armada yang disiagakan meningkat menjadi 200 unit sebagai bentuk penguatan kapasitas operasi kemanusiaan menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan berlangsung pada puncak musim kemarau, yakni Juli hingga September.

    Melalui kesiapsiagaan yang terencana dan sinergi dengan berbagai pihak, PMI berkomitmen untuk terus hadir memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang terdampak bencana, sekaligus memastikan kebutuhan dasar berupa air bersih dapat terpenuhi selama masa kekeringan.

  • PMI Jakpus Gelar Jumtek 2026, Wadah Penguatan Relawan Humanis dan Adaptif di Era Digital

    PMI Jakpus Gelar Jumtek 2026, Wadah Penguatan Relawan Humanis dan Adaptif di Era Digital

    Jakarta, – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jakarta Pusat menggelar kegiatan Jumpa Bakti Gembira dan Temu Karya (Jumtek) 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (23/6/2026).

    Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Arifin, Ketua PMI DKI Jakarta H. Beky Mardani, Ketua PMI Kota Jakarta Pusat H. Asep Djuanda, serta para pemangku kepentingan, pembina PMR, relawan, dan tamu undangan lainnya.

    Dalam sambutannya, Ketua PMI Kota Jakarta Pusat H. Asep Djuanda menyampaikan bahwa seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini tanpa dipungut biaya sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat dan pihak sekolah yang telah berpartisipasi serta memberikan dukungan pada Bulan Dana PMI Tahun 2025.

    “Kegiatan ini dapat terlaksana tanpa membebani peserta karena adanya dukungan masyarakat dan sekolah-sekolah yang telah berkontribusi dalam Bulan Dana PMI 2025. Ini merupakan bentuk apresiasi kami kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan kemanusiaan PMI,” ujar Asep.

    Sementara itu, Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Arifin mengapresiasi terselenggaranya Jumtek 2026 yang dinilai menjadi sarana strategis dalam membentuk karakter generasi muda yang peduli, disiplin, dan memiliki semangat kemanusiaan yang tinggi.

    “Jumtek bukan hanya menjadi ajang silaturahmi dan kompetisi, tetapi juga wadah untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, kepemimpinan, serta kemampuan para relawan dalam menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks” kata Arifin.

    Pada tahun ini, Jumtek mengusung tema “Relawan Responsif, Berkemampuan, dan Bersinergi di Era Digital.” Tema tersebut mencerminkan komitmen PMI Jakarta Pusat dalam mencetak generasi kemanusiaan yang tidak hanya sigap dalam memberikan pelayanan di lapangan, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung efektivitas dan efisiensi operasi kemanusiaan modern.

    Selain menjadi wadah pertemuan dan pembinaan, Jumtek 2026 juga menjadi ajang bergengsi perebutan piala bergilir “Wali Kota Cup.” Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kompetisi yang sehat dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan kepalangmerahan yang telah dipelajari para peserta selama mengikuti pembinaan PMI.

    Sebanyak 1.704 peserta mengikuti kegiatan ini yang terdiri dari anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan relawan PMI dari delapan kecamatan di Jakarta Pusat.

    Jumlah tersebut meliputi 422 anggota PMR Mula tingkat Sekolah Dasar, 664 anggota PMR Madya tingkat Sekolah Menengah Pertama, 438 anggota PMR Wira tingkat Sekolah Menengah Atas, serta 180 relawan senior yang berasal dari Korps Sukarela (KSR) dan Tenaga Sukarela (TSR).

    Melalui penyelenggaraan Jumtek 2026, PMI Kota Jakarta Pusat berharap dapat memperkuat kapasitas, solidaritas, dan semangat pengabdian para relawan serta anggota PMR sebagai garda terdepan dalam aksi kemanusiaan di tengah masyarakat.