Pengalaman yang Tak Terlupakan

asep djuanda PMI

Dulu waktu aku jadi anggota PMR, rasanya hidup jadi lebih sibuk tapi juga lebih hidup.

Malam muda mudi peringatan HUT Jakarta tahun 74, 75, 76 itu paling berkesan. Aku ditugaskan jaga layanan kesehatan bareng teman-teman PMR dari sekolah lain. Lapangan penuh orang, musiknya kencang, tapi kami justru sibuk keliling bawa kotak P3K.

Ada yang pingsan karena desakan, ada yg kepalanya luka kena batu, ada yang kakinya lecet, ada juga yang cuma butuh air putih dan tempat duduk. Capek iya, tapi bangga juga karena ngerasa berguna.

Dari situ aku ketagihan. Pernah juga aku ikut Jumbara di Bali dan Semarang. Ketemu PMR dari daerah lain, tukar ilmu, tidur beralaskan tenda, makan bareng. Pokoknya asik deh.

Terus lanjut ikut lomba P3K PMI se-DKI, bahkan sampai tingkat nasional. Deg-degan waktu simulasi, tapi seru karena semua serius mau nolong dengan benar.

Beranjak dewasa, materi PMR-nya makin menantang. Salah satunya pelatihan pertolongan gigitan ular berbisa. Pelatih kami waktu itu orangnya cekatan dan berani.

Untuk nunjukin cara penanganan darurat, beliau memperagakan langsung: menghisap luka bekas gigitan pakai mulutnya. Kami semua diam, merhatiin serius.

Tapi beliau nggak sadar, di bibirnya lagi ada sariawan. Beberapa saat kemudian keadaannya berubah. Bisa ular itu masuk. Dan malam itu juga beliau nggak tertolong. Sedih banget…

Ruangan yang tadinya ramai jadi hening. Kami yang masih remaja waktu itu kaget, sedih, dan takut.

Sejak hari itu prinsipku berubah. Aku jadi jauh lebih hati-hati kalau nolong orang terluka. Mau lukanya kecil atau besar, aturannya harus pas. Sarung tangan, alat, prosedur, nggak ada yang boleh diskip.

Dulu aku hafal banget P3K itu Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Tapi setelah kejadian itu, aku sering nyeletuk ke adik-adik PMR:
“Ingat ya, kalau sembarangan, bisa jadi KP3. Kecelakaan Pada Pertolongan Pertama.”

Kalimat itu kedengarannya lucu, tapi maksudnya serius. Karena nolong orang itu mulia, tapi harus pakai ilmu dan kehati-hatian. Nyawa orang lain, dan nyawa kita sendiri, sama berharganya.

Bravo PMI Jakpus