Buat Apa Kita Ber Palang Merah?

asep djuanda PMI

Oleh: Kang Asep Djuanda

“Ngapain sih jadi relawan? Capek, gak digaji, kena hujan, kena lumpur.”
Pertanyaan itu wajar. Tapi jawabannya ada di langit, dan dibuktikan di lapangan.

Palang Merah bukan cuma organisasi. Ia cerminan iman yang jalan.

  1. Menolong Orang: Bukti Iman yang Hidup

Islam itu agama yang turun ke jalan. Bukan cuma di masjid. Islam harus membumi. Peka terhadap permasalahan lingkungan.

Allah perintahkan: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa” – QS. Al-Maidah: 2
Gak pakai syarat. Gak pakai “asal seiman”. Yang butuh tolong, ya tolong.

Nabi mencontohkan. Beliau menyuapi pengemis Yahudi buta tiap hari. Setelah wafat, Abu Bakar yang nerusin. Pas ditanya “kamu siapa?”, dijawab: “Aku pelayanmu.”
Itu Islam. Nolong dulu, dakwah bil hal dari pada cuma dakwah bol lisan.

Palang Merah lahir dari semangat yang sama. “Barangsiapa menyelamatkan satu jiwa…” – QS. Al-Maidah: 32

Di medan bencana, relawan PMI gendong lansia, PMI kasih infus, dokter relawan begadang. Gak tanya KTP. Gak tanya agamanya apa. Karena yang diselamatkan adalah “jiwa”.

Nabi bilang: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat” – HR. Ahmad
Nah, rompi Palang Merah itu seragamnya orang-orang yang mau jadi “paling bermanfaat”.

2. Menjaga Persatuan: Mengikat Luka Menjadi Satu

Bencana itu adil. Gempa gak milih rumah ustaz atau rumah pendeta. Banjir gak milih kampung NU atau Muhammadiyah.

Di posko, kita lihat, yang masak ibu-ibu majelis taklim. Yang angkut beras pemuda gereja. Yang jadi dokter relawan agamanya beda-beda. Tapi satu tenda. Satu dapur. Satu tujuan: selamatkan manusia.

Itulah fungsi Palang Merah: Menjadi jembatan.
Netral. Tidak memihak. Datang untuk semua.

Islam juga ngajarin itu. Nabi bikin Piagam Madinah. Muslim, Yahudi, Nasrani hidup satu kota, saling jaga.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal” – QS. Al-Hujurat: 13

Saat kita ber Palang Merah, kita latihan jadi orang yang bisa merangkul.
Bukan yang memecah. Bukan yang “kita vs mereka”.
Karena musuh kita bukan manusia. Musuh kita: lapar, luka, dan putus asa.

3. Melatih Diri Jadi Khalifah: Tugas di Bumi

Allah bilang kita ini khalifah: “Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah” – QS. Al-Baqarah: 30
Tugas khalifah 3: Menjaga, Memakmurkan, Menyayangi.

Gimana latihannya? Di lapangan.

  • Menjaga = jadi tim penolong PMI, evakuasi korban
  • Memakmurkan = bangun dapur umum, distribusi air bersih
  • Menyayangi = usap kepala anak yatim, temenin lansia yang trauma

Florence Nightingale melatih dirinya dengan lampu di tengah malam.
Henry Dunant melatih dirinya dengan bendera putih di tengah perang.
Kita melatih diri dengan rompi dan Bismillah.

Di setiap tetes keringat relawan, ada pelajaran: sabar, ikhlas, tawadhu.
Di setiap orang yang kita tolong, ada cermin: “Itu bisa jadi aku”.

Nabi bilang: “Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya” – HR. Muslim
Jadi pas kita nolong orang, sebenarnya kita sedang ditolong Allah juga.

Jadi, Buat Apa Kita Ber Palang Merah?

Buat 3 hal:

  1. Bukti iman – bahwa Islam itu rahmat, bukan omongan
  2. Bukti persatuan – bahwa kemanusiaan lebih besar dari perbedaan
  3. Bukti khalifah – bahwa kita serius menjaga bumi

Karena nanti di akhirat Allah gak nanya “Spanduk pengajianmu sebesar apa?”
Tapi Allah nanya: “Ketika dia lapar, kamu kasih makan? Ketika dia sakit, kamu jenguk?” – HR. Muslim

Jadi jawabannya:
Kita ber Palang Merah, supaya iman kita gak cuma di sajadah. Tapi juga di tangan, kaki, dan keringat yang menolong manusia.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” – HR. Bukhari