Hari Sabtu pagi di sekolahku baunya beda. Bukan bau gorengan kantin, tapi bau minyak kayu putih, perban, plester, dan sedikit panik.
Itu hari pertama pelatihan P3K bareng kakak-kakak senior PMR.
“Kalian besok bisa jadi first aider,” kata Kak Zuli sambil menunjukkan bidai dari papan tipis bekas. “Sekarang, praktik balut bidai!”
Temanku, Dika, langsung jadi korban. Tangannya dibalut rapi pakai perban, terus dikasih bidai dari papan tipis, lalu disuruh jalan kayak robot. Kami ketawa sampai bidainya copot dua kali.
Materi selanjutnya lebih serius: luka robek, luka bakar, sampai pertolongan orang pingsan. Kak Zuli mempraktikkan cara memiringkan kepala, cek napas, dan melonggarkan baju. “Kalau ada yang pingsan jangan dikocok, ya. Bukan karpet,” katanya. Satu sekolah ketawa, tapi kami hafal.
Latihan selesai, kami pikir bubar. Ternyata belum.
Kak Zuli mengeluarkan setumpuk map putih PMI. “Nah, ini misi kedua. Kita ganti kaleng kencleng dengan map donasi. Lebih sopan, lebih rapi.”
Tiap anggota PMR dapat satu map. Isinya surat tugas, foto kegiatan PMI, dan kertas daftar derma. Tugas kami: keliling.
Awalnya aku malu setengah mati. Bayangin: anak kelas 8 bawa map, ngetok pintu rumah orang, terus bilang, “Permisi, donasi untuk PMI?” Rasanya kayak sales.
Hari pertama aku memberanikan diri ke warung Bu Yanti. “Bu, donasi buat PMI, ya, Bu…”
Bu Yanti malah ngasih aku es teh gratis. “Pinter, Nak. Nih, buat semangat.”
Tapi nggak semua semanis itu. Pas lewat depan sekolah, ada gerombolan teman yang bukan anggota PMR. Salah satunya teriak, “Woi, ngapain jadi PMR? Cuma disuruh minta-minta doang!”
Aku diem. Di dalam hati aku mikir, “Iya juga, ya…”
Panas, malu, capek, terus ditolak orang. Emang kerjanya minta-minta?
Tapi malamnya aku nonton berita. Ada banjir di daerah sebelah. Relawan PMI datang bawa perahu karet, obat-obatan, dan tenda. Di dadanya ada logo yang sama kayak di mapku.
Terus aku inget pas latihan tadi. Kalau ada yang pingsan di jalan, aku udah tahu harus ngapain. Kalau ada yang kena luka, aku bisa balut. Kalau ada yang butuh bantuan, ada PMI yang bergerak, dan aku bagian kecil dari itu.
Tiba-tiba rasa maluku menciut. Predikat first aider itu kedengarannya keren juga.
Tantangannya banyak sih. Ditolak, kehujanan, map sobek ketiup angin, sampai harus jelasin ke bapak-bapak toko kalau “ini bukan penipuan, Pak, beneran PMI”. Tapi tiap kali pulang bawa amplop isi donasi, rasanya kayak menang lomba.
Sekarang aku masih terus ikut latihan tiap minggu. Niatnya mau jadi anggota PMR Inti. Katanya kalau udah inti, bisa ikut posko, bisa ikut aksi beneran, bukan cuma simulasi pakai bidai papan tipis.
Orang boleh bilang kami cuma “minta-minta”. Biarin.
Karena aku tahu, di balik map putih PMI ini ada orang-orang yang tertolong.
Dan iya,
Aku bangga jadi PMR.
Kang Ajun
PMR Inti Angkatan 3/1974
NIA : 74357089



